EMILIA

Cerepen Badaruddin Amir

Sumber : fiksi.kompasiana.com

Sumber : fiksi.kompasiana.com

Jika aku menyubut nama Emilia, pastilah kau akan mencurigaiku bahwa kini aku sedang jatuh cinta. Begitu indah nama itu. Dan pastilah ia akan segera melambungkan imajinasimu pada seorang perempuan muda dan tentu saja cantik jelita pula. Berwajah bulat, dengan kulit kuning langsat dan .boleh jadi keturunan Cina atau paling tidak kebarat-baratan. Tapi tidak. Tak seperti itu yang memaksa aku untuk menulis cerita ini.

Ia benar seorang perempuan cantik. Tidak putih, tapi juga tidak hitam. Tapi percayalah, kecantikan seorang wanita tidak didominasi oleh warna kulit saja. Ada banyak alasan bagi seorang laki-laki untuk menyebut seorang perempuan cantik. Ah, cantik ! sebuah kata klise yang telah diperdaya ataupun memperdaya seorang laki-laki baik yang Don Juan maupun yang biasa-biasa saja.

Emilia seorang perempuan yang sederhana, feminim dan mukanya berbalut jilbab. Tak jelas apakah ia sudah bersuami atau masih gadis. Tapi aku pikir ia sudah bersuami. Barangkali ia sudah punya seorang atau dua orang anak yang cantik-cantik dan manis. Tapi kalau dia belum bersuami barangkali ia sudah punya calon suami yang mudah-mudahan seorang lelaki ideal dan bertanggungjawab. Selalu itu yang kudoakan manakala aku berkenalan dengan seorang perempuan cantik namun tak mungkin berharap sebagai pacarku.

Emilia seorang guru SMP yang tentunya punya beban dan tanggung jawab luar biasa bagi nusa dan bangsa. Ah, klise lagi. Tapi apa boleh buat. Karena guru telah lama memikul beban dan tanggung jawab dan nasibnya tak selalu terperhatikan oleh pemerintah (Anda boleh membantah, karena pemerintah telah meningkatkan kesejahtraan guru melalui tunjangan sertifikasi, tapi ribuan guru lain belum tentu dapat menikmatinya). Aspirasi-aspirasi guru tak selalu tertanggapi dengan baik dan PGRI-nya, sudah lama jadi mandul. Jadinya, kritik-kritiknya, kalaupun ia diberi kesempatan untuk mengeritik keadaan, juga hanya diibaratkan lebah tanpa sengat. Bandingkanlah nasib seorang guru dengan nasib seorang anggota dewan yang sama-sama berpendidikan sarjana ! (Nah, mohon maaf atas digresi ini-BA)

Aku belum banyak mengenal pribadi Emilia. Dan malam itu aku ingin sekali punya kesempatan berduaan dengannya, ingin sekali mendengar kisah-kisahnya, dan lebih dari semua itu aku ingin sekali memasuki rimbaraya pribadinya yang masih rahasia.

Tentu saja hal ini adalah sebuah keinginan gila. Sebab bagaimana mungkin untuk memasuki rimbaraya pribadi seseorang tanpa lebih dulu bersahabat dengannya. Dan aku memang belum bersahabat dengan Emilia. Hanya sebuah obsesi yang samar, seolah bangkit dari dunia lama yang memaksa aku untuk mengenalnya.

Aku mengenal Emilia dalam sebuah Pelatihan KTSP yang mempertemukan sebagian guru dengan guru lainhya pada sebuah hotel yang telah jadi ikon pertemuan guru di kota.. Sebuah nama keren yang hasilnya tidak terlalu keren. Ia kebetulan duduk di sampingku, sama-sama mendengarkan arahan menarik bagaimana memproses guru menjadi lebih profesional dalam menangani pendidikan. Ia tersenyum padaku. Dan saat itulah sebuah petir tiba-tiba menyambar, angin jadi badai. Sebuah ombakpun bergolak. Bergolak, dan menerpa tebing-tebing hatiku. Aku jatuh cintakah ?

Ah, tunggu dulu. Biarkan aku meralat semuanya. Aku belum jatuh cinta. Aku belum yakin kata klise ini kali ini akan memperdaya keakuanku lagi. Tapi aku laki-laki yang selalu gelisah dengan hayalan-hayalan utopia. Aku seorang penghayal yang parah. Seorang yang gagal jadi sastrawan dan kemudian jadi guru bahasa Indonesia yang lebih suka mengajarkan sastra dari pada aspek bahasa lainnya.

Ia meminjam bukuku. Sebuah buku kumpulan cerpen dari hayalan-hayalan utopia yang aku tulis dari berbagai versi lamunan di masa lalu. Judulnya, “Latopajoko & Anjing Kasmaran” yang diterbitkan oleh penerbit Akar Indonesia Jogyakarta dan disunting oleh Joni Aryadinata, seorang sahabat cerpenis kawakan berkepala botak dan berjidat lebar dan redaktur majalah sastra Horison di Jakarta!

“Buku Bapak ?“ Tanya Emilia sambil memperhatikan fotoku dalam ekspresi sekarat yang terpacak pada sampul belakang buku itu. Aku mengangguk mengiyakan sambil membayangkan sebuah awal cerita yang bakal bergelinding seperti bola. Dalam benak aku berhayal perkenalan ini akan segera membangun sebuah mood yang sanggup menciptakan alur sebuah cerita yang baik. Ia membolak balik buku itu dan mulai membuka halaman-halaman pertama, halaman yang memuat daftar isi buku itu. Membacanya sejenak, lalu membuka halaman tertentu yang memuat cerpenku berjudul “Pinrakati”.

Aku memperhatikan mulutnya komat-kamit tanpa suara seperti dukun merapal mantra. Sebentar-sebentar sudut bibirnya terangkat mengukir senyum. Ah, alangkah indah senyuman itu !

“Ini pasti pengalaman Bapak !” komentarnya di sela membaca tanpa melepaskan pandangannya dari buku.

“Semua cerpen yang ada di buku itu adalah pengalaman saya. Sebagian pengalaman realistis, sebagian lagi pengalaman imajinatif” kata saya.

Ia mendongak melihatku. Tidak jelas apakah ia mengerti yang kumaksud atu tidak.

“Tapi ini…ini cerita sesungguhnya, kan ?”

“Kamu suka kalau cerita itu cerita sesunggunnya ?”

“Soalnya, yang satu ini sangat realistis. Ini pasti pengalaman Bapak ketika masih SMA dan membekas hingga saat ini !”

“Benar. Cerpen ‘Pinrakati’ itu berasal dari catatan harian saya ketika masih SMA. Waktu itu, aku sedang jatuh cinta pada seorang adik kelas saya bernama…ah, di situ bernama Pinrakati.”

“Nama samaran ?”

“Ya, tentu saja nama samaran. Tak etis menulis nama yang sesungguhnya dalam cerita, nanti yang bersangkutan tersinggung. Tapi sudahlah, peristiwa itu terjadi 20 tahun yang lalu. Meskipun aku bertemu dengan “pinrakati” sekarang, belum tentu aku bisa mengenalnya. Mungkin ia sudah bersuami dan punya anak beberapa orang.”

Ia membaca lagi dengan mulut yang masih komat-kamit.

Udara dalam ruangan pertemuan mulai gerah. Arahan-arahan yang semakin garang terdengar melalui loudspeaker dengan suara pecah. Namun gangguan itu tampaknya tak mempengaruhi pembacaannya. Akupun sebenarnya mulai tak tertarik dengan arahan yang dibawakan oleh seorang pejabat Diknas dari pusat itu. Rasanya arahan itu telah berkali-kali mampir di telingaku. Tapi aku tak mau mengambil kegiatan lain, kecuali memperhatikan dan juga membayangkan bibir indah Emilia yang sedang komat kamit membaca kumpulan cerpenku. Peserta yang lain kulihat sama: sudah mulai bosan jadi pendengar setia. Mereka sudah mulai iseng. Dan yang perokok sudah mulai ada yang berani menyalakan rokok kendati ruangan pertemuan itu ber-AC dan di sudut tertulis “dilarang merokok”.

Waktu tanda istirahat berbunyi, Emilia berdiri memungut tasnya tanpa melepas buku di tangannya.

“Aku pinjam dulu bukunya ke kamarku, ya. Aku mau membacanya sampai habis” katanya.

Aku mengangguk dan bubar bersama dengan peserta lain, menuju ke kamar masing-masing.

****

Aku tidak tahu kamar mana kamar Emilia. Di hotel tiga lantai yang menjadi langganan Diklat guru ini ada lebih seratus kamar. Tapi kebanyakan peserta perempuan tinggal di lantai tiga dan peserta laki-laki di lantai dua. Sebuah kelalaian lagi, aku tak meminta nomor HP Emia. Aku sendiri tinggal di kamar no. 35, lantai dua. Teman sekamarku adalah seorang guru Fisika dari Palu.

Malamya, tiba-tiba HPku berdering. Aku segera mengangkatnya. Sebuah nomor baru muncul.

“Halo ? dari Siapa ?”

“Emilia !”

“Ha? Emilia ? dari mana kau tahu nomor HP-ku ?” tanyaku girang.

“Dari buku Bapak. Di sini kan ada nomor HP Bapak yang ditulis tangan pada halaman judul buku Bapak !”

“Oh, ya aku lupa. Bagaimana ceritanya, ada yang bagus ?”

“Ya, semua semuanya bagus. Tapi yang istimewa cerpen Bapak berjudul “Pinrakati” itu. Saya mengenal cerpen itu dengan baik. Hemingway sering menulis serealistis itu. Aku yakin Bapak penggemar Hemingway…”

“Tapi…itu cerpen asli karya saya. Bukan saduran atau plagiat. Kalau ada persamaan dengan cerpen yang pernah kau baca dari Hemingway, itu mungkin hanya…karena saya memang penggemar Hemingway, juga Tolstoi dan beberapa cerpenis dunia lainnya ! dan cerpen itu, terus terang saja adalah pengalaman pribadi saya yang paling berkesan. Ia telah membuat obsesi yang tak gampang kulupakan.” kata saya membela kredibilitas karya saya.

“Oh, tidak begitu maksudku. Saya tidak curiga cerpen itu jiplakan atau pengaruh. Tapi maksudku, saya mengenal dengan baik cerpen itu…”

“Dari Hemingway ? Atau Tolstoi ? Kayaknya kamu pecinta sastra dunia juga, ya ?” aku mulai mengejek karena jengkel merasa kredibilitasku disepelekan. Aku merasa dia seenaknya menuding dan mendemonstrasikan tingkat apresiasinya. Tapi di balik itu aku kagum juga, karena selama ini memang jarang aku bertemu dengan guru, guru bahasa Indonesia sekalipun, yang punya bacaan sastra cukup luas sampai mengenal Hemingway, Leo Tolstoi, dan sederet nama sastrawan dunia lainnya. Nama-nama sastrawan puncak Indonesia saja rasanya jarang guru bahasa Indonesia yang mengenalnya, kecuali nama-nama penting yang terlanjur tercatat dalam sejarah sastra seperti Mochtar Lubis, HB. Yassin, Chairil Anwal dan segelintir lainnya yang namanya disebut-sebut dalam buku pelajaran sastra atau masuk dalam ujian nasional. Tapi karya-karyanya saya yakin tak terbaca dengan baik.

“Saya bukan pecinta sastra dunia seperti yang Bapak maksud. Hanya kebetulan pernah membaca beberapa cerpen Hemingway dalam ‘Salju di Kalimanjoro’. Tapi saya mengenal setting cerita Bapak dengan baik.”

“Setting ? Maksudmu …?”

“Ya, saya tahu lokasi SMA yang Bapak jadikan setting pada cerita itu, meski pada cerpen itu tidak disebutkan. Juga watak-watak pelakunya, juga…pelaku sesunggunya yang Bapak beri nama samara Pinrakati itu !”

“Maksudmu…Nurlaelah ?” kataku tanpa sadar menyebut nama yang pernah membuat obsesi dari sebuah album kenangan ketika masih SMA itu.

“Ya !”

“Kamu kenal Dia, Nurlaelah ? Benarkah kamu kenal dia? Di mana dia sekarang ?”

“Dia baru saja bertemu dengan Bapak tadi siang di aula hotel ini. “

“Maksudmu ?”

“Ya, dia baru saja Bapak pinjami buku kumpulan cerpen !”

“Jadi kau Nurlaela? tapi bagaimana bisa. Namamu kan Emilia ?”

“Kata siapa namaku Emilia ?”

“Tadi siang, waktu berkenalan kamu bilang namamu Emilia !”

“Itu kan nama samaran. Dan namaku boleh siapa saja, seperti Bapak juga menamaiku Pinrakati dalam cerpen Bapak !”

****

Esoknya, aku mencari Emilia alias Nurlaelah. Tapi aku tak menemukannya lagi. Di ruangan pertemuan mataku masih jelalatan, meski acara sudah dimulai dan pembawa materi sudah asyik menjelaskan materinya dengan menggunakan proyektor L-CD di dinding. Kemana Nurlaelah atau Emilia moksa ?

Usai acara hari itu aku sengaja mendatangi sekretariat penitia, membolak balik daftar nama guru utusan daerah yang mengikuti pertemuan tersebut. Tapi tak ada seorang pun peserta bernama Nurlaelah atau Emilia. Aku bertanya pada panitia apakah mungkin masih ada daftar tambahan peserta yang tidak tercatat dalam daftar tersebut, tapi ia hanya mencibir sambil mengngkat alis tinggi-tinggi.

Ah, Emilia! Ah Laila! Apa mungkin hanya sebuah halusinasi ?

Aku mengecek lagi memori HP-ku dan mencari nomor baru yang misterius itu. Tapi tak ada. HP-ku tak mencatat panggilan masuk yang terakhir dan lupa aku simpan itu. Kepalaku jadi pusing dan berdenyut. Aku pulang ke kamar, istirahat. Tiba-tiba di atas meja aku melihat buku kumpulan cerpenku yang berjudul “Latopajoko & Anjing Kasmaran” yang dipinjam Emilia kemarin, tergeletak dan terbuka, persis pada halaman 362 yang memuat cerpenku berjudul “Pinrakati”. Aku menggosok-gosok mata dan ragu menyentuhnya. Aku lihat halaman-halamannya bergerak-gerak diterpa angin sepoi, seolah memaksa aku untuk membacanya lagi….

Barru, Agustus 2008

 

Satu Tanggapan to “EMILIA”

  1. sangat bangus ceritantya, jempol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: