Dia Memanjat Terus

Cerpen Badaruddin Amir

Sumber: radiomagonline.com

Dia memanjat terus. Keringat sekucur tubuhnya mulai menguap. Padahal udara malam cukup dingin. Bahkan kelewat dingin. Dingin khas awal kemarau. Di langit tak segumpal awan menampakkan diri. Semua menyisih ke horizon yang jauh. Bergumpal-gumpal seperti kapas di kaki langit.

Sepertiga dari ketinggian menara 200 meter itupun telah dicapainya. Sebuah prestasi yang tidak penting dicatat. Apa sih artinya dua pertiga, atau kira-kira 150 meter lagi yang sisa, jika memang ia memanjat tanpa tujuan.

Tanpa tujuan ? Ah, seorang gilapun mungkin punya tujuan. Paling tidak secara filosofis tanpa tujuan itu sebenarnya juga adalah sebuah tujuan. Dan sekarang dua pertiga lagi dari ketinggian menara 200 meter itu pun akan dicapainya dengan tujuan “tanpa tujuan”.

Sebenarnya di puncak menara itu memang banyak yang dapat menjadi tujuan. Dan bagi seorang maling tengik, tujuan tak pernah menjadi target. Tapi kesempatanlah yang menjadi target. Dan di puncak menara itu ada penangkal petir yang telah lama jadi inceran maling. Jika dilelang di pasar loak bisa laku dengan harga yang lumayan. Selain itu banyak aluminium, besi tembaga, dan ya siapa tahu juga … emas, platinum dan titanum! Konon alat-alat canggih yang dipasang di puncak menara itu banyak yang berlapis logam mulia. Tapi itu konon…

Tapi dia bukan orang gila, juga bukan seorang maling. Hanya waktu kecil ia pernah ikut-ikutan menyikat ayam tetangga. Sekedar ikut-ikutan. Tapi semua juga akhirnya memaafkan setelah ketahuan oleh yang empunya ayam karena dianggap masih kenakalan remaja. Dan waktu itu mereka memang tidak niat mencuri untuk “mencuri”. Hasil curiannya tidak mereka jual, tapi mereka makan bersama –beramai-ramai dalam sebuah pesta. Mereka bahkan memanggil anak yang punya ayam itu –teman mereka—untuk sama-sama dalam pesta makan ayam di kebun belakang itu.

Dia memanjat menara itu bukan dengan niat untuk mencuri sebagaimana lelaki malang yang digebuki warga beberapa waktu lalu karena ketahuan memanjat menara itu. Dia hanya memanjat saja tanpa tujuan yang dapat merugikan atau mencelakakan orang lain. Ia hanya sekedar ingin sampai ke puncak. Sekedar ingin menikmati suasana lain yang diharapnya dapat mengurai kegelisahan-kegelisahannya. Ia tidak mau menyebut kegelisahan-kegelisahannya itu sebagai tujuan. Jadi tak ada alasan bagi warga yang memergokinya untuk menggebuknya.

Tapi meski begitu ia memang harus hati-hati karena kesalah pahaman bisa terjadi. Dan alangkah banyaknya korban salah paham, salah tangkap, dan juga belakangan salah tembak yang sering terjadi. Masih ingat kasus Sengkong dan Karta. Kasus klasik tentang salah tangkap dan kemudian salah hukum. Puluhan tahun Sengkong dan Karta mendekam dalam penjara dan kemudian terbukti tak bersalah setelah ada pengakuan dari pelaku yang sesungguhnya. Jadi, ia memang mesti hati-hati untuk tak terjerumus ke berbagai kesalahan yang dapat menggiringnya masuk ke … penjara !

Dia ingat dua malam yang lalu dia sudah mulai memanjat. Tapi niatnya diurungkannya ketika kesibukan orang-orang di rumah Sunarti kekasihnya (tepatnya : mantan kekasihnya) yang hanya berjarak kira-kira 100 meter dari kaki menara itu dikhawatirkannya akan mengetahuinya. Dia tidak mau ada orang, apalagi orang banyak yang ikut campur dengan urusannya. Apalagi urusannya memang urusan pribadi. Benar-benar pribadi.

Menjatuhkan diri dari puncak menara dengan ketinggian 200 meter tentulah urusan pribadi, sepanjang tak ada yang campur tangan. Dan dua malam yang lalu dia memang berniat bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari puncak menara itu, pas ketika kekasihnya Sunarti sedang bersanding di pelaminan dengan pemuda pilihan orang tuanya. Ya, dia sakit hati. Sakit hati karena Sunarti, demikian rela mengikuti kehendak orang tuanya tanpa konpromi dengannya. Padahal dia sudah berjanji sehidup semati dengan Sunarti. ”Tak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut !” demikian janji mereka saat bersama di puncak.

Tapi sekarang dia menyadari janji tidak selamanya bisa dipercaya. Sunarti telah menghianatinya. Sunarti tak bisa meyakinkan orang tuanya bahwa dia telah mengikat janji yang setia. Bahkan Sunarti seolah-olah mengejeknya, menganggapnya lelaki yang tak mampu bertanggung jawab.

Kali ini dia akan sampai ke puncak. Dia membayangkan bagaimana nanti saat detik-detik terakhir ia akan melepaskan pegangannya di puncak ketinggian 200 meter menara itu, lalu membiarkan tubuhnya lemas melayang-layang di udara malam yang dingin beberapa menit sebelum terdengar gedebuk yang keras di tanah, yang mungkin akan mengundang perhatian orang-orang yang ada di seputar menara itu.

Dia memanjat terus. Rasa takut saat menginjak anak tangga pertama menara itu kini telah hilang. Diganti rasa penasaran untuk segera memegang penangkal petir yang ada dipuncak menara itu. Seluruh rongga tubuhnya kini seperti dipompa. Semangatnya meningkat dua puluh kali. Ya, dia akan sampai ke puncak, memegang pangkal penangkal petir itu sebagai ucapan selamat tinggal….

Semakin tinggi dia memanjat, dia merasakan bobot tubuhnya semakin ringan. Ah, ini mungkin hanya perasaan, pikirnya. Apa bedanya memanjat menara ketinggian 200 meter dengan memanjat pohon kelapa ketinggian sepuluh meter. Sama saja, pikirnya. Dia tak pernah takut. Dia percaya dia akan sampai ke puncak. Dia telah memanjat lebih dari seribu pohon kelapa dan dia tidak pernah takut. Kalau memang ditakdirkan celaka, kedua-duanya juga dapat membuat tubuhnya remuk.
”Pohon kelapa tanpa cabang dan tak ada masalah. Memanjat menara, meski baru pertama kali ini tapi rasanya lebih enteng. Besi-besi penyangganya bersilangan. Dan tangga kecil yang membawanya sampai ke puncak menara pun telah tersedia. Tinggal menapakinya dengan setia” pikirnya. Maka dia pun semakin bersemangat melancungkan diri ke atas.

Setelah dia sampai pada dua pertiga dari ketinggian menara itu dia berhenti sejenak. Mengaso di tengah jalan. Bergelantungan seperti monyet. Dia menengok ke bawah. Gelap menyelubung sempurna. Tak kelihatan lagi semak-semak yang bergerombol di seputar kaki menara. Juga sandal jepitnya yang rombeng yang disimpannya di bawah semak-semak itu.

Dia memperbaiki duduk. Mengeluarkan sebatang rokok dan korek dari saku bajunya. Menyulutnya sebatang. Tapi kemudian diurungkannya. Dia ingat sekecil apapun titik api pada malam hari akan nampak jelas dari jauh. Dan itu dapat mengundang perhatian orang yang melihatnya.

Dia melihat di kejauhan. Alangkah indah kehidupan di sana, pikirnya. Kerlap-kerlip lampu kota nampak seperti kunang-kunang. Atap atap-atap rumah memang tak jelas kelihatan karena terselubung gelap. Tapi lampu-lampu jalan dan lampu-lampu taman, aduh alangkah indahnya.
Dia lemparkan pandangannya jauh ke sebuah kompleks perumahan elit.

Di sana. Di kompleks yang banyak rumah tingkatnya itu dilihatnya pemandangan yang mengagumkan. Lampu-lampunya warna-warni. Berkelap-kelip seperti bintang. Mungkinkah di sana belahan lain dari sorga ? Salah satu dari rumah tingkat itu, barangkali rumah tingkat yang paling tinggi di kompleks itu lampu terasnya masih menyala. Juga lampu di ruang tengah. Barangkali rumah itu berlantai empat atau lantai lima. Soalnya, lampu itu kelihatan hampir sejajar dengannya yang sedang berada di ketinggian menara.

Penghuni rumah itu nampaknya belum tidur. Bersama istrinya, ia ke luar ke teras menikmati udara malam. Ia baru saja ke luar. Sudah jam berapakah sekarang ? tanyanya dalam benak.

Di lain rumah para penghuninya mungkin sudah tidur nyenyak, berpelukan dengan istrti atau suaminya. Juga mungkin bukan suaminya. Mungkin dengan teman selingkuhnya. Ya, sipa tahu. Ah, selingkuh, pikirnya. Ia pernah dengar istilah itu. Tapi tak tahu persis apa maknanya. Dia cuma meraba-raba, artinya mungkin kira-kira sama dengan kumpul kebo.

Kini tinggal seperempat lagi puncak menara itu akan dicapainya. Ia memanjat terus. Aku harus mencapai penangkal petir itu sebelum dinihari, pikirnya. Aku tak boleh urung sebelum sampai ke puncak. Aku telah memanjat ribuan pohon kelapa. Kalau disambungkan semuanya aku sudah memanjat lebih dari 10.000 meter dan menara ini hanya 200 meter, pikirnya.

Tapi malam itu memang cukup gelap. Langit hanya menampakkan silau bintang. Besi-besi bersilangan di atasnya hanya nampak samar-samar. Sementara bias cahaya lampu mobil yang lewat di jalan raya dan telah menolongnya tadi mencapai dua pertiga ketinggian menara itu kini tak dapat lagi diandalkan.

Sekarang ia sudah betul-betul sudah sampai ke puncak menara itu. Tak ada lagi besi bersilangan di atasnya. Dan penangkal petir itu sudah dapat dirabanya. Dielus-elusnya. Tapi ia tidak perlu tergesa-gesa melaksanakan niatnya. Toh semuanya tinggal klik. Dan itu bisa dilakukannya dengan tenang. Karena itu ia istirahat sebentar. Mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia melihat penangkal petir itu. Sebuah benda sebesar paha dengan panjang kira-kira satu meter setengah. Berapa ya, kira-kira harga benda ini ? tanyanya dalam hati. Tapi persetan dengan harga. Toh ia tak tahu sama sekali apa tujuan benda itu. Ia cuma ingin sampai di situ. Mengelus benda itu sebentar lalu….

Ia melemparkan lagi pandangannya ke rumah tingkat itu. Ia penasaran, karena pada malam selarut ini penghuni rumah tingkat itu ternyata belum tidur juga. Ia kini dapat melihat dengan jelas dua sejoli itu sedang bercumbu di teras lantai empat atau mungkin lantai lima rumah itu. Bercumbu ? Ah, sejenak ia membayangkan sebuah film jorok yang pernah ditontonnya di rumah rekannya melalui vcd yang baru saja dibelinya itu. Ia melihat laki-laki di teras rumah tingkat itu meraih bahu perempuan itu dengan kasar. Lalu ia melihat laki-laki itu menggigit bahu perempuan itu seperti count Dracula menggit mangsanya. Setelah itu iaki-laki itu mengangkat perempuan itu, sehingga sangat kentara gaung malamnya tersingkap. Kemudian iaki-laki itu menungging perempuan itu. Memukul-mukul pantat perempuan itu. Adegan itu persis sama dengan adegan film biru yang ditontonnya. Dan perempuan itu seperti pasrah saja mendapat perlakuan kasar dari lelaki itu. Kini ia seperti memahami mengapa pelaku dalam film biru yang ditontonnya melakukan perbuatan seperti itu. Tapi ia tidak tahu siapakah yang meniru-niru. Film yang ditontonnya atau lelaki itu. Yang jelas ia kini sedang menyaksikan sebuah tontonan kekerasan seksual yang terjadi di rumah tingkat itu. Ya, boleh jadi lelaki itu seorang maniak.

Ia kini sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya. Telinganya dipasangnya kuat-kuat untuk menangkap erangan erotis dari perempuan itu. Tapi jarak yang membentang antara puncak menara tempatnya sedang asyik menonton dengan objek tontotan di rumah tingkat itu tak memungkinkan telinganya menangkap desah itu dengan jelas. Ia hanya menghayalkan sura-suara itu. Suara-suara yang telah mengganggu benaknya, tapi selalu ingin didengarnya sejak ia menonton vcd di rumah temannya.

Tiba-tiba ia melihat lelaki itu bertambah ganas. Ia mengangkat perempuan itu dan menaikkannya ke dinding teras. Lalu dengan bernafsu, lelaki itu mendorong perempuan itu keluar sehingga perempuan itu melayang dari teras rumah berlantai empat atau mungkin lima itu. Ia masih melihat tangan perempuan itu menggapai-gapai, seolah menjerit minta tolong sebelum gelap menelannya bulat-bulat.
Ia kaget. Ia tak pernah membayangkan ujung adegan itu sangat fantastis.

“Astaga. Maniak itu melemparkan perempuan itu dari lantai lima….!” pekiknya tak sadar. Ia tiba-tiba gemetar seperti diserang demam mendadak. Ia tiba-tiba merasa takut. Sangat takut. Terbayang dibenaknya perempuan itu sudah remuk setelah menyentuh tanah. Sebuah kejahatan di malam awal kemarau telah terjadi dan ia adalah satu-satunya saksi. Saya harus berani mengungkap kejahatan, fikirnya. Ia pun melepaskan pelukan dari penangkal petir itu, lalu turun pelan-pelan dengan perasaan remuk, seremuk tulang-tulang perempuan yang kini dibayangkannya tak utuh lagi itu.

Madello, 2006.

Badaruddin Amir, cerpenis tinggal di Barru. Bukunya yang sudah terbit antara lain “Latopajoko & Anjing Kasmaran” (Kumpulan Cerpen), “Karya Sastra sebagai Bola Ajaib” (Kumpulan Esai), dan “Aku Menjelma Adam” (Kumpulan Puisi). Tahun 2005 memperoleh “Celebes Award” untuk bidang sastra dari Pemerintah Prop. Sulsel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: