Studi Tour Universitas Muhammadiyah Makassar ke Malaysia – Singapura (5) Menyeberang Ke Singapura Menyaksikan Pertunjuukan Spektakuler “The Sonngs Of The Sea” di Sentosa Island

Oleh Badaruddin Amir

Penulis berfose di sisi patung Merlion, Singapura (Foto: Ist)Hari keempat kami menyeberang ke Singapura. Negara kecil yang disiplinnya luar biasa. Demikian pula perlindungan pemerintah terhadap rakyatnya. Karena itu melintasi perbatasan Malaysia-Singapura, berarti anda harus tunduk pada peraturan imigrasi yang sangat ketat. Tak boleh membawa rokok dari luar, permen karet, minyak wangi yang mengandung cairan gas, dan sebagainya.

Ada dua kantong penuh rokok Indonesia berbagai merek sebagi bekal teman-teman pecandu rokok terpaksa kami buang (berikan kepada sopir) , untuk menyelamatkan rombongan dari pemeriksaan dan introgasi pihak imigrasi di perbatasan.

“Satu bungkuspun tak ada boleh masuk !” kata tour leader kami Ashimah. Ia kemudian menceritakan pengalamannya mengantar tourist Indonesia yang bandel, menyembunyikan sebungkus rokok di balik bajunya dan berbohong pada petugas imigrasi bahwa ia tidak membawa rokok. Ia kena denda dua kali lipat. Pertama karena berbohong, dan kedua karena kedapatan membawa rokok setelah digeledah. Dan dendanya melebihi harga dua kis rokok termahal di Indonesia.

Cerita ini dibenarkan oleh tour leader kami di Singapura, pengganti Ashimah. Cik Noor Ashimah Binti Jani dan dan rekannya Encik Safei hanya boleh bertugas sampai di perbatasan Malaysia-Singapura.
Demikian etika per“travel”an. Memasuki dengara lain harus diantar oleh tour leader lain dari negara setempat. Di Singapura kami dipandu oleh Mr. X (namanya saya lupa catat).

naeem.co.zaMeskipun kami sudah tidak membawa rokok masuk ke Singapura kami juga masih tertahan di Imigrasi karena dua rekan bermasalah. Yang satu karena namanya kelewat pendek, hanya satu kata, dan yang lain karena kehilangan potongan bukti lintas negara yang harus diserahkan di imigrasi Singapura. Ketika di Malaysia hal itu memang tak jadi persoalan, karena setelah dicheck and receck pada jaringan imigrasi melalui internet yang bersangkutan boleh jalan. Tetapi lain halnya di Singapura. Petugas Imigrasi di Negara itu sangat mencurigai orang-orang yang mempunya nama hanya satu kata. Untunglah setelah digelandang ke kamar introgasi selama satu jam, ia boleh lepas dengan alasan hanya sekedar melintas di Singapura dan tidak sampai bermalam di Negara itu.

Di Singapura kami memang sekedar melintas dan hanya sempat singgah makan di restoran China dekat patung Merlion, simbol singapura. Waktu kurang lebih tiga jam di Negara itu kami habiskan untuk menunggu dan menonton pertunjukan “Songs of The Sea”, sebuah pertunjukan teater multimedia yang spektakuler di Sentosa Island. Rencananya kami akan bertolak ke Batam dengan fery yang berangkat jam 22.00 malam dan bermalam di Hotel Utama, Compleks Paradise Centre, Batam. Karena itu kami punya kesempatan untuk menonton “Songs of The Sea”, yang kata orang telah menjadi salah satu maskot pariwisata Singapura.
Pertunjukkan ini berlangsung 2 kali dalam sehari, yaitu pada jam 19.40 dan jam 20.40 malam. Karena itu kami pilih pertunjukan jam 19.40 agar dapat mengejar fery lebih awal.

Ternyata memang benar bahwa pertunjukan ini sangat spektakuler. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana, diangkat dari sebuah legenda cerita rakyat Singapura yang bercerita tentang bebasnya Princess Ammy dari kutukan Master of Fire, si raksasa api yang jahat berkat nyanyian merdu seorang pemuda bernama Lee.

“Songs of The Sea” dimulai dengan munculnya delapan remaja, dua perempuan dan enam laki-laki, memasuki hamparan pasir di depan penonton. Mereka bermain dan bernyanyi di pantai pada malam hari saat rembulan muncul di langit. Sedangkan di laut, tepatnya beberapa meter dari pinggir pantai, berdiri beberapa pondok beratap rumbia bagaikan rumah-rumah suku laut Bajo.

Persembahan pertama mereka adalah sapaan berbahasa China yang diucapkan dengan irama riang dan iringan musik senada. Mendengar sapaan yang dinyanyikan pelakon perempuan, seorang pelaku laki-laki “menghinanya”.

“Apa itu, yang kamu sebut nyanyian?” sindirnya dalam bahasa Inggris. “Nyanyian itu seperi ini,” katanya lantas menyapa penonton di sebelah kirinya. “Apakah ada yang berasal dari Malaysia?” tanyanya lantang.
Penonton pun berteriak “ya” yang keras. Maka ia pun bernyanyi dalam bahasa Melayu. Setelah itu disambung dengan menyapa penonton dengan Bahasa India. Serempak mereka menari menirukan gaya khas penyanyi India dalam film-film.

Terakhir, sebagai penutup persembahan awal mereka, dinyanyikanlah lagu yang memuja negara Singapura.

“Ayo Lee, bernyanyilah,” ucap seorang pelaku perempuan kepada seorang pelaku laki-laki lain yang dari tadi hanya berdiam diri di atas batu besar dan hanya mengikuti sedikit-sedikit nyanyian yang lain.
“Aku malu bernyanyi,” jawabnya.

Setelah bujukan yang ditujukan padanya tak berhasil, rekan yang lain sepakat untuk menyanyikan lagu-lagu riang bersama. Terbawa suasana gembira, Lee pun, tanpa sadar, ikut bernyanyi. Hingga di penghujung nyanyian, ia masih terus bernyanyi dan bernyanyi. Semua rekannya heran, tapi mereka membiarkan.

Tiba-tiba di atas pondok-pondok beratap rumbiah yang berjejer di laut itu, muncul seraut wajah cantik yang temaram. Namun hanya sesaat, kemudian menghilang ke balik pondok-pondok. Seraut wajah ini muncul berupa holocon dari sebuah proyektor yang menggunakan air mancur yang memancar seperti kipas raksasa terbuka di udara sebagai layar, dihiasi permainan sinar laser warna-warni berkekuatan ribuan kw. Semua ini ditata dengan konfigurasi seni yang sangat tinggi dan teknologi yang sangat canggih.

Para pelaku saling berpandangan dengan curiga. Siapakah gerangan gadis berparas cantik itu? Tiba-tiba di atas pondok bagian kanan, muncul animasi serupa kuda laut dengan menggunakan media yang sama seperti tadi, tapi dengan konfigurasi yang berbeda. Ia mengaku kalau gadis berparas cantik itu adalah dirinya. Tak lama kemudian, di atas pondok bagian kiri muncul pula animasi yang menyerupai seekor ikan. Di sisi lain lagi , muncul pula animasi berbentuk ubur-ubur laut. Mereka semua mengaku kalau gadis rupawan yang baru saja menghilang adalah wujud asli mereka.

Perdebatan di antara mereka pun dimulai. Masing-masing mengaku sosok gadis bermata indah tadi adalah mereka. Untuk membuktikannya, mereka pun bernyanyi dan berputar-putar dengan heboh. Dan penonton seperti sedang bermimpi, menyaksikan holocon ini bermain di atas udara, di atas rumah-rumah tiang beratap rumbiah yang berdiri di laut dangkal itu. Tak ada yang sempat tepuk tangan karena tersihir oleh kekuatan ajaib yang muncul dari konfigurasi air mancur, sinar laser dan asap tebal dari bawah rumah rumbiah, serta ilustrasi music dari sound system yang berkekuatan ribuan watt. Semua penonton hanya melongo.

Belum lepas ketakjuban penonton, muncul lagi holocon lain yaitu seekor ikan yang lucu bernama Oscar. Dari pantai, Lee pun bertanya siapa gerangan dia.

“Tak perlu ditanya. Panggil saja aku Asker,” katanya kata holocon ikan itu.

Oscar menjelaskan bahwa sosok gadis yang mereka lihat adalah Princess Ammy. Ia berkisah Princess Ammy selama ini tertidur pulas hingga tak punya energi untuk bangun karena kena kutukan dari Master of Fire, makhluk raksasa berwajah batu.

Princess terbangun dari tidurnya panjangnya 100 tahun, karena mendengar nyanyian Lee yang merdu. Untuk itu ia meminta Lee bernyanyi kembali agar Princess benar-benar terjaga dan lepas dari kutukan.

Maka dari pantai Lee pun bernyanyi diiringi pemain lain. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan mereka, bukan Princess Ammy yang terbangun, melainkan Master of Fire (pada penayangan Master of Fire ini air mancur di angkasa melebar membentuk layar besar). Ia muncul diiringi letupan keras yang mengeluarkan api. Api ini benar-bernar nyata. Bukan animasi atau holocon seperti tokoh-tokoh ikan, Oscar, ubur-ubur, dan kuda laut, serta Master Fire sehingga benar-benar mengagetkan penonton. Ceritanya ia marah sebab terusik ketenangannya. Akibatnya, ia mengamuk dan meletuskan api di mana-mana. Api menyembur tinggi dari pantai di depan penonton, juga kembang api yang bermekaran di udara. Dentuman keras memekakkan telinga melalui megasound berkekuatan ribuan watt, raungan ilustrasi music yang keras. Fantastis ! Penonton yang menyaksikan terperanjat dan berteriak hiruk-pikuk. Namun Lee tetap bernyanyi sesuai permintaan Oscar.

Cukup lama Lee bernyanyi. Dan nyanyiannya tak sia-sia. Air mulai tersembur dari berbagai tempat dan memadamkan api. Air ini juga air sungguhan yang turun bagaikan hujan deras namun tak mencapai penonton yang duduk di undakan-undakan di bagun di arena terbuka pantai itu. Akhirnya raksasa berwajah batu pun dapat dikalahkan.
Sebagai gantinya, dari balik pondok, muncul holocon seraut wajah yang tak kalah cantik. Rambut sebahunya yang memancarkan cahaya kebiruan terurai indah. Ia pun meminta Lee bernyanyi untuknya. “Bernyanyilah terus Lee. Agar aku bisa memperoleh kekuatanku kembali,” pinta animasi yang bermain di udara itu berdialog dengan pemain sungguhan di pantai.

Sejurus kemudian ia pun menghilang. Berganti sosok Oscar. Ikan kuning dengan sirip kemerahan dan bermata hijau dengan gayanya yang centil dan selalu bergerak lincah. Kembali ia menjelaskan bahwa sosok tadi adalah Lady of the Water, penguasa lautan yang juga dikutuk raksasa batu dan tertidur panjang.

Maka sekali lagi, Lee bernyanyi diiringi yang lain. “Thank you Lee,” ucap Lady of the Water yang muncul kembali dengan wajah dan senyum sumringah.

Namun Lee dan kawan-kawan tak berhenti bernyanyi. Mereka tetap mengalunkan suara merdu untuk membangunkan Princess Ammy yang sedari awal menjadi tujuan mereka.

Usaha mereka tak berujung sia-sia. Tak berapa lama, holocon Princess Ammy pun muncul di udara. Kali ini dengan wajah yang tak lagi temaram. Tapi telah menunjukkan wajah yang bening dan tampak nyata. Princess Ammy telah menampakkan parasnya secara utuh. Rambut seukuran bahu, ditata sederhana. Namun tak mengurangi kecantikannya. Sebuah bandana kecil bermata mutiara indah turut menghiasi rambut dengan gaya poni miliknya. Disekeliling kepalanya, benderang cahaya bergaris hijau turut mempertegas kecantikan Princess Ammy.

Ia tersenyum ke arah penonton. Penonton pun baru bertepuk tangan gemuruh dan bersuit-suit. Masih tetap dengan senyuman menawannya, Princess Ammy mengucapkan terimakasih dan syukurnya atas bantuan Lee dan teman-teman. “Your singing brought me to life. Thank you Lee,” ucapnya lembut.

Semua gembira dan memuji apa yang telah dilakukan Lee. Dari sifatnya yang pemalu, terutama dalam bernyanyi, Lee telah berhasil mengalahkan raksasa dan membangunkan kembali Lady of the Water dan dan sang puteri Princess Ammy. “Who did it… Who did it?,” sorak mereka dalam kegembiraan nyanyian. Dan semua pun serempak menjawab, “Lee did it.. Lee did it…,” jawab pemain sungguhan, anak-anak muda yang bermain di pantai itu mengeluk-elukkan Lee.
Penampilan itu ditutup dengan munculnya kembali animasi-animasi biota laut dalam holocon yang menggunakan media air mancur dan sinar laser. Oscar dan kawan-kawan bernyanyi. Semua bernyanyi. Cahaya laser vertikal pun disemburkan dari dasar pondok. Dari bawah, cahaya berubah warna sampai ke atas. Kadang kuning di bawah dan hijau di atas, kadang biru dan merah membentuk bak susunan genetik dalam ilmu biologi. Semburan air pun memantulkan permainan cahaya laser ini.
Lee, salah seorang remaja yang memiliki suara indah dengan nyanyiannya telah membangunkan Putri Amy dari kutukannya di alam “sana”.

Pertunjukan ini berangkat dari konsep teater terbuka. Semacam “teater kondo buleng” atau “Petta Puang” di Makassar. Hanya saja lokasi pertunjukannya telah disetting sedemikian rupa di alam terbuka, yaitu di tepi pantai yang telah dibuatkan undakan-undakan sebagai tempat duduk penonton seperti di stadion yang dapat memuat ribuan orang. Di depan penonton berjejer rumah-rumah panggung beratap rumbiah yang berdiri di atas laut dangkal menyerupai rumah-rumah suku Bajo. Pada rumah-rumah inilah terletak kunci sukses pertunjukan spektakuler ini.

Rumah-rumah itu memang bukan rumah-rumah biasa yang menawarkan pemandangan eksotis. Tapi juga sebuah “mesin” pengendali yang dapat “mengamuk” dengan menyemprotkan air mancur raksasa yang menebar ke langit dengan konfigurasi indah. Bukan itu saja, laser yang bersileweran dengan berbagai warna menyorot pada air mancur itu sehingga menciptakan nuansa warna yang mempesona. Air mancur yang menebar itu juga menjadi layar menayangkan animasi holocon yang bercerita tentang dongeng seorang Princess. Berbarengan dengan itu, memang patut dipuji sound sistem untuk ilustrasi music dan dialog yang digunakannya, yang berkekuatan ribuah watt tanpa dapat diterka di mana gerangan diletakkan. Karena sesungghuhnya, sound system itu telah dirancang dengan model batu-batu karang besar di tepi pantai dan menjadi ilustrasi menarik pertunjukan itu.

“Saya tak pernah melihat pertunjukan seperti ini sebelumnya. Hanya ada satu kata untuk mengungkapkannya : spektakuler !” komentar Dr. Salam, M.Pd, dosen Sastra Pascararjana UMM dan UNM, yang juga pengarah lawatan kami, usai menyaksikan pertunjukan itu. Seorang turis asing yang duduk dekat penulis pun berkomentar “Songs of the Sea is the world’s first permanent show set in the sea, featuring dramatic special effects, engaging music, pyrotechnics and a live cast creatively weaved into a magical tale.” Katanya kepada penulis.
Menurut catatan yang ada, pertunjukan ini merupakan show baru di Sentosa Island menggantikan Musical Fountain yang sudah berumur 25 tahun. Seluruh property pertunjukan ”Songs of the Sea” selesai dibangun sekitar bulan Maret tahun 2007 dengan menelan dana sekitar US$ 30 juta. Sekali show, investornya masih harus mengeluarkan sekitar US$ 1000 untuk membeli kembang api (fireworks). Tapi sekali pentas pertunjukan yang berdurasi 45 menit ini mampu menyedot penonton sebanyak 2500 orang dengan tiket tanda masuk seharga S$ 10,00 (Dollar Singapura). Jadi dalam dua kali pertunjukan setiap malam mampu menyedot penonton 5000 orang.

Usai pertunjukan kami segera mengejar fery ke pelabuhan. Jam sudah menunjuk angka 10, 00 malam dan sebentar lagi fery akan bertolak ke Batam.

 

 

Satu Tanggapan to “Studi Tour Universitas Muhammadiyah Makassar ke Malaysia – Singapura (5) Menyeberang Ke Singapura Menyaksikan Pertunjuukan Spektakuler “The Sonngs Of The Sea” di Sentosa Island”

  1. dimana di dapatkan mnateri dramanya ? 1 konsep dramahya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: