Karya sastra Sebagai Bola Ajaib

Badaruddin Amir

Badaruddin Amir

Oleh Badaruddin Amir

Hasil sebuah olahan kreativitas yang disebut “Karya Sastra” itu, bagaikan sebuah bola yang bergelinding. Begitu bola selesai ditendang oleh pemain pertama, maka pemain lainpun akan segera mengejar dan berusaha akan menendangnya. Entah dengan cara beramai-ramai, entah dengan sendiri-sendiri. Dan demikianlah seterusnya hingga selalu memancing kegairahan bermain di tengan gelanggang. Sebuah hasil karya sastra yang baik akan menjadi “bola ajaib” yang tak habis-habisnya bergelinding ke mana-mana. Semakin banyak ia ditendang, semakin jauh ia bergelinding dan semakin kuat pula ia mempertahankan eksistensinya sebagai “bola ajaib”. Sampai-sampai mungkin orang pertama yang menendangnya sudah jadi tulang-belulang berpuluh tahun lamanya, namun bola yang ditendangnya masih terus juga bergelinding ke mana-mana menerobos lapisan ruang dan waktu.

Ambillah contoh puisi-puisi karya penyair “anarkis” khairil Anwar yang di Karet sudah lama jadi “tulang-belulang berserakan”, namun karya-karyanya terus juga bergelinding secara ajaib dan tak henti-hentinya dibicarakan orang hingga telah melahirkan banyak buku, disertasi, maupun pembicaraan-pembicaraan lepas yang bertebaran di berbagai surat kabar dan majalah sampai hari ini. Demikian pula dengan karya sastra kreatif lainnya seperti roman atau novel yang baik, drama yang baik maupun cerpen yang baik akan terus bergelinding dan lapisan ruang dan waktu tidak akan mampu menenggelamkannya.

Ketika Siti Nurbaya (roman karangan Marah Rusli) misalnya, sebagai karya sastra yang baik mulai pudar ditelan kemilau era sastra mutakhir ada saja sekelompok orang yang melihat relevansi karya sastra produk Angkatan 20-an ini dengan keadaan kini. Orang-orang perlu menikmatinya kembali, entah sebagai refleksi sejarah budaya bangsa yang pernah berakar di masa lalu, entah sebagai obsesi perorangan atau kelompok yang menganggap bahwa kompleks “Siti Nurbaya-Datuk Meringgih” (dalam versi modern) masih saja terus berlangsung sampai kea bad modern ini. Maka ditendanglah kembali Siti Nurbaya sang kasih yang tak sampai itu kea bad modern dengan media komunikasi modern : sinetron TVRI. Tangan-tangan sineas TVRI yang piawai telah merekamnya dalam pita seluloid dan TVRI Pusat Jakarta waktu itu telah menayangkannya sebagai sinetron idola masyarakat. Dan begitulah bola ajaib bergelinding kembali. Sementara Marah Rusli sebagai orang pertama yang menendang Siti Nurbaya telah lama jadi unsure hara dan tak ikut bergelinding di tengah lapangan. Siti Nurbaya hiidup kembali dan Marah Rusli jadi baying-bayang dari karyanya.
Cerpen yang baik juga demikian. Ia tidak akan tenggelam oleh ruang dan waktu. Sisi “kebaikannya” (pada konteks tertentu) akan menggelindingkannya terus dan akan mempertahankan eksistensinya sebagai “bola ajaib”. Cerpen Rahman Arge (sastrawan dan budayawan Sulsel) berjudul “Langkah-Langkah dalam Gerimis” bergelinding kembali (setelah sekian lama mendekam dalam penjara waktu) ke dalam pita seluloid dan menjadi film “Jangan Reguk Cintaku”, karena sisi “kebaikannya” pada konteks budaya tertentu dipandang sebagai sebuah kekuatan kontekstual cerpen tersebut. Dan setelah bergelinding sebagai “bola ajaib” kembalilah orang membicarakannya. Barangkali juga di antara orang yang membicarakannya ada yang tidak pernah membaca cerpen yang pertama kali ditendang oleh Rahman Arge pada majalah Horison. Tapi itu tak menjadi soal. Sebab kini cerpen tersebut telah bergelinding menjadi bentuk lain. Dan Rahman Arge boleh berbahagia karena cerpennya telah bergelinding jadi “bola ajaib”. Pada masa-masa yang akan dating tentunya cerpen tersebut masih akan terus bergelinding baik sepengetahuan maupun di luar pengetahuan orang yang menendangnya untuk pertama kali. Demikian pula halnya dengan karya sastra drama. Sebuah drama yang baik akan terus bergelinding sepanjang masa baik sepengetahuan maupun di luar pengetahuan orang yang pertama kali menendangnya.

Tapi perlu diingat karya sastra yang baik tidak selamanya sama dengan pengertian karya sastra yang bermutu. Boleh saja disebut bahwa karya sastra yang baik adalah karya sastra yang sukses namun belum tentu bermutu. Sebab pengertian bermutu (sastra) harus dipulangkan kepada rumusan pengertian yang telah diletakkan oleh para kritikus sastra sebagai makhluk yang dianggap paling mengetahui “mutu” sebuah karya sastra. Siti Nurbaya misalnya, meski oleh umum telah dianggap sebagai karya sastra yang baik dengan ukuran kemampuannya bergelinding sebagai “bola ajaib” sepanjang masa dan tidak tenggelam sebagai karya yang dilupakan, namun ada saja kritikus sastra yang diam-diam menilainya sebagai karya yang tidak bermutu, andaikata tidak karena relevansi sejarah, adat-istiadat dan kebudayaan masa lalu.

Dalam proses kreativitas, seorang pengarang yang baik juga dapat dialegorikan sebagai pemain bola yang baik. Begitu selesai menendangkan karyanya ke tengah masyarakat pembacanya, maka dia jadi bebas dari tuntutan harus mengejar dan kembali sebagai pemain yang baru — karena tanggung jawab moral—harus mempersiapkan diri untuk menerima rangsangan lain yang harus diolahnya. Karya yang sudah ditendang bukan lagi menjadi miliknya sepenuhnya, melainkan sudah menjadi milik masyarakat, yang karenanya sudah bebas untuk dipuji atau dimaki.

Ketika Budi darma misalnya, selesai merampungkan cerpennya yang cukup panjang “kritikus Adinan”, maka selesailah tugasnya sebagai pengarang cerpen tersebut. Titik akhir dari cerpennya menandakan rampungnya tanggung jawabnya sebagai pengarang. Tanggung jawab pengarang berikutnya, seperti kata-kata Iwan Simatupang dalam eseinya “T” dari Tanggung Jawab, adalah : what next ? Apa yang harus dibuat dan ditendangnya lagi. Sementara tanggungjawab atas cerpen yang baru saja ditendang tidak perlu dihiraukan. Kekuatannya akan menggelindingkannya sebagai “bola ajaib” ke mana-mana. Dan begitulah, ketika cerpen yang panjang itu ditendang ke arena melalui majalah sastra Horison yang pertama kali memuatnya, cerpen tersebut bergelinding ke mana-mana. Masyarakat sastrapun menilainya, memujinya sebagai karya yang mampu mengungkapkan kedalaman, atau…mencacinya habis-habisan !

Sebagai “permainan bola” , tentu saja karya sastra yang baik sangat tergantung kepada kekuatan tendangan yang dilontarkan sang pengarang melalui karyanya. Apakah karyanya mampu mempengaruhi persepsi pembaca, membuat hati pembaca tergerak untuk menilai, atau hanya mampu menimbulkan riak-riak kecil (sebagaimana kebanyakan karya sastra yang lahir tanpa kesadaran komtemplasi) dan kemudian melupakannya, kesemuanya memang terpulang kepada kemampuan pengarang sebagai pengarang. Namun demikian pengarang yang baik tidak pernah membayangkan karya yang baik, sebab criteria karya yang baik tidak pernah sama bagi semua orang.

Sebuah karya yang baik juga tidak harus sebuah karya yang universal. Sebab kenyataan membuktikan bahwa sebuah karya yang kontekstualpun bias menjadi karya yang baik. Cerpen Rahman Arge yang disinggung di atas dapat membuktikan bahwa karya sastra yang bicara tentang konteks tertentu bias menjadi baik, meski pada masyarakat yang berlatar belakang kebudayaan lain boleh jadi dianggap biasa-biasa saja, atau malah mungkin tidak baik. Tapi di luar dari semua itu karya sastra yang baik akan terus bergelinding. Sebab sebuah karya sastra yang baik adalah sebuah “bola ajaib” yang bergelinding ke mana-mana. Tak ada kekuatan yang bias menenggelamkannya !

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: