Tahi Lalat Suster Ezra

Cerpen Badaruddin Amir

Sumber: egal-online.blogspot.com

Tahi lalat hitam sebesar biji pepaya di dagu kiri Suster Ezra segera menarik perhatianku tiap dia datang memeriksa kondisi anakku. Tahi lalat itulah yang pertama terekam dalam benakku untuk membedakannya dengan perawat-perawat lain yang berkostum sama : putih-putih, dengan rambut yang disasak atau dibiarkan tergerai, namun diikat dengan “destar” khas perawat yang juga berwarna putih.
Harus aku menandainya, karena menurut penilaianku dialah perawat yang paling rapi bekerja dan paling mampu mengapresiasi profesinya. Artinya, dia benar-benar profesional — menghayati profesinya lebih dari sekedar pekerja komersial di rumah sakit swasta itu. Dan andaikata aku atasannya, sudah tentu kelebihan itu menjadi perhitungan untuk menaikkan konditenya, yang disertai dengan pemberian bonus tentunya. Tapi aku bukan atasannya. Aku hanya seorang pengamat luar yang berstatus sebagai ayah dari seorang pasiennya.

Pagi itu hari terakhir kami di rumah sakit. Dokter yang menangani anakku sudah menyarankan untuk check out karena kondisinya sudah baikan setelah diopname tiga hari. Aku sangat mengharapkan Suster Ezra yang bertugas membenahi kamar anakku. Aku ingin melihat sekali lagi tahi lalatnya yang manis sebelum kami meninggalkan rumah sakit itu. Dan seperti doa yang makbul saja, keinginan itu terkabul. Suster Ezra ditemani seorang rekannya benar bertugas lagi pagi itu. Dia datang dengan senyum. Dia membawa baki berisi handuk kecil, beberapa peralatan medis dan gunting. Sedangkan temannya membawa baskom berisi air.

Seperti biasa, setelah tersenyum dia lewat dengan menabik di depanku. Hanya senyum dan menabik. Tak ada kata-kata “selamat pagi” seperti perawat lainnya yang diucapkan dengan rutin sebagai tegur sapa pada pasien atau penjaga pasien. Namun senyum Suster Ezra telah menciptakan keakraban yang asing di hatiku.

Selesai memandikan anakku, mencabut jarum infus dan membuka perban yang melilit lengan kirinya, Suster Ezra kemudian membersihkan tepi-tepi jendela yang biasanya luput dan perhatian tukang sapu di rumah sakit itu. Selalu begitu. Kelincahan itu kadang membuat temannya kikuk, sampai ikut-ikut pula melap tepi tepi jendela kendati Suster Ezra telah membersihkan semuanya. Tak ada perawat lain yang kuperhatikan selama anakku di rawat di rumah sakit itu berbuat seperti Suster Ezra.

Setelah selesai tugas paginya memandikan pasien kecilnya ia segera berlalu. Selalu saja pasangan Suster Ezra adalah Suster Nicky. Aku tahu karena aku rajin membaca papan nama yang terpacak di atas buah dada semua perawat wanita yang bertugas di kamar anakku. Suster ini berkulit hitam manis, beralis tebal dan berhidung mancung. Keduanya aku kira masih gadis. Jujur saja, sebagai lelaki aku tertarik pada Suster Nicky. Namun andaikata aku masih bujangan dan berhasrat memi1ih jodoh, pilihanku masih jatuh pada Suster Ezra yang bertahi lalat di dagunya. Bukan karena tahi lalat itu, tapi karena aku melihat Suster Ezra memiliki kematangan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Lebih dan itu, senyumnya yang misterius bagai senyum “Monalisa” telah menciptakan keakraban yang asing di hatiku.

Tapi aku sudah punya anak, punya istri yang tak mungkin kubangdingkan dengan kedua suster itu dari segi manapun. Istriku secara kongkret telah memberikan bukti kesetiaan dan kasih sayang; seorang anak yang telah lama kami dambakan kehadirannya. Anak itulah yang kini dirawat di rumah sakit swasta yang terkenal di Parepare itu karena muntah-muntah sejak tiga hari yang lalu.
Usai membereskan tugas paginya, Suster Ezra memanggilku ke kantornya yang hanya berjarak beberapa kamar dari kamar rawat anakku.

“Ada formulir yang harus Bapak isi” kata Suster Ezra.
“Oh ya, sebentar saya ke sana, Sus !” kataku sambil terus membaca bagian terakhir The Snows of Kilimanjaro-nya Ernest Hemingway yang aku bawa dari rumah.

“Pergilah, Pap. Nanti diteruskan lagi membacanya. Barangkali penting !“ perintah istriku. Aku melipat halaman yang sementara kubaca, lalu menyimpan bacaan itu di balik tumpukan pakaian yang sudah mulai apak karena belum sempat dicuci.

Di kantor perawat yang bersih itu aku duduk tanpa ngomong sepatah katapun di depan Suster Ezra. Aku hanya memperhatikan tahi lalat di dagunya. Saat Suster Ezra menyadari bahwa dirinya menjadi objek perhatianku, dia nampak kikuk. Dia ngomong tak jelas sambil menarik laci meja mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah jambu.
“Ini formulirnya yang harus Bapak isi dan tanda tangani sebagai persetujuan perawatan anak Bapak di rumah sakit ini. Mohon maaf, karena formulir ini seharusnya diberikan saat anak Bapak masuk di rumah sakit ini tiga hari yang lalu. Tapi saya lihat Bapak sibuk. Lagi pula ini hanya formalitas saja, namun harus diisi dengan benar” katanya menjelaskan. Aku mencabut pulpen dan siap untuk mengisinya.
“Eit, tunggu dulu. Bapak harus membacanya dulu baik-baik supaya tidak salah isi. Dan kalau ada yang kurang jelas, silakan Bapak tanyakan” katanya.

Akupun mengikuti sarannya. Membaca formulir itu dengan suara yang sengaja kubesarkan seperti anak kecil yang baru belajar membaca.
“Tidak usah dibaca seperti anak TK” katanya sambil tersenyum. Akupun tersenyum. Menatap tahi lalatnya lagi yang indah. Kemudian dia kikuk lagi, berpurapura lagi menyibukkan jari-jarinya dengan mencari sesuatu, entah apa di laci mejanya.

Di atas formulir itu aku menulis nama, umur, pekerjaan, alamat, hubungan kekeluargaan dengan pasien dan sejumlah data tetek bengek lainnya yang menurutku tak penting. Setelah menandatanganinya, aku menyerahkan kembali formulir itu pada Suster Ezra.

“Wah, tak ada yang ditanyakan ?“ kata Suster Ezra. Aku menggeleng sambil menunggu komentarnya terhadap beberapa data yang mungkin keliru menulisnya. Suster Ezra membacanya sambil sesekali melirik kepadaku seolah-olah mencocokkan data itu dengan keadaan diriku. Barangkali ada yang tidak wajar dalam benaknya, tapi aku membiarkan keasyikannya berfantasi membayangkan diriku. Naluriku mengatakan dia mulai tertarik pada diriku.

“Oh, Bapak wartawan, ya? Dari harian apa ?“ tanya Suster Ezra setelah membaca sampai pada kolom pekerjaan. Di situ memang aku menulis pekerjaan wartawan. Karena aku bekerja pada sebuah majalah bulanan.

“Bukan harian, Sus. Wartawan tidak semua dari harian. Saya wartawan sebuah majalah bulanan” kataku.

“Oh, saya kira harian !” katanya.

Aku sedikit tersinggung dengan nadanya. Tapi segera kusadari bahwa dia tak bermaksud mendiskreditkan wartawan bulanan seperti sebagian pejabat yang hanya merespek pada wartawan harian karena takut di ‘obok-obok’. Aku yakin dia berkata begitu karena tidak memahami seluk-beluk profesi kewartawanan. Dia hanya mengenal wartawan = harian.

Ketika usai membaca semua data yang kutulis pada formulir itu Suster Ezra berkata, “Bapak sering menulis kejadian-kejadian unik yang berkaitan dengan pribadi seseorang ?“

“Berita-berita seperti itu engel saya” kataku membesarkan diri, “Ada kejadian unik seperti itu, Sus ?”

“Ada. Bapak wartawan mau menulisnya ?“ katanya dengan nada canda.

“Kalau datanya cukup akurat, menarik, dan sumbernya dapat dihubungi …..” kataku.

“Dapat. “

“Siapa sumbernya ?“ tanyaku mulai terpancing. Naluri kewartawananku pun mulai bekerja.

“Saya !” katanya sambil tersenyum.

“Suster serius, nih ?”

“Ya, serius. Kalau mau tulis silakan wawancara dengan saya!“ tantangnya.

“Sekarang ?“ Aku menghunus pulpen dan mengeluarkan buku saku yang memang selalu terbawa kemanapun aku pergi.

“Saya kira jangan dulu sekarang karena saya masih banyak tugas. Kalau boleh nanti sore atau malamlah. Nanti saya hubungi. Bapak punya ponsel, kan?”

“Ada. Nomornya… “ Dia siap mencatat nomor ponselku. Tapi saya mencabut selembar kartu nama dari dompet dan memberikannya. Di kartu nama itu nomor ponselku sudah tercatat.

“Oh, jadi Bapak yang bernama Badaruddin Amir. Bapak sering nulis cerpen kan ? juga puisi ! Saya sering membaca karya-karya Bapak yang dimuat di Koran edisi mingu. Tapi kenapa nama Bapak di formulir ini tak ada ‘Amir’-nya ?”

“Itu kelalaian guru SD dulu, tak mencantumkan nama orang tua di belakang nama saya. Di jaman saya sekolah dulu guru SD yang memilihkan nama muridnya sehingga kadang lupa mencantumkan nama orang tua. Padahal itu penting sebagai penghormatan dan sekaligus penghargaan pada orang tua sebagai ‘pemilik’ anaknya. Terus terang, saya kurang sependapat dengan Shakespeare ketika mengatakan ‘apalah arti sebuah nama’. Bagi saya, nama itu sangat penting artinya. Apalagi jika lengkap dengan nama orang tua yang dicantumkan di belakang nama kita. Untuk kasus ini, seharusnya kita angkat topi pada orang Cina yang mencantumkan nama orang tua mereka justru di depan namanya sendiri, bukan di belakangnya “ khotbah saya.
Suster Ezra sedikit bingung dengan argumentasiku. Atau sedikit tersinggung karena namanya kelewat pendek tanpa nama marga. Atau, barangkali karena tak mengenal nama Shakespeare. Aku pun sebenarnya tak begitu paham konteks terjemahan ‘what is a name’ itu. Tapi aku menikmati kebingungan Suster Ezra.

“Terimakasih, terimakasih,” kata Suster Ezra sambil tersenyum. Sekali lagi aku memandangi tahi lalat yang manis di dagunya. Dan sekali lagi dia kikuk. Dia menyimpan kartu namaku di sakunnya, sementara aku merasa mengantongi kemenangan di hati, entah kemenangan apa.

xxx

Lain sekali penampilan Suster Ezra malam itu. Apakah karena dia tidak berpakaian putih-putih dan rambutnya tidak disasak dengan “destar” perawat sehingga kelihatan berbeda, aku tidak tahu. Yang jelas ketika dia duduk di sampingku, di tanggul pantai Mattirotasi Parepare malam itu, rasa kikuk dan gap seperti tidak tampak lagi di wajahnya.

Senyumnya terus berhamburan. Dan tahi lalat di dagunya. oh mana sekarang tahi lalat itu? Rasanya mustahil ia bisa kabur dari pandanganku karena aku telah merekamnya baik-baik di benakku sejak hari pertama bertemu dengannya di rumah sakit tempatnya bekerja.

Malam itu aku tak melihat ada tahi lalat yang bertengger manis di dagunya. Atau hanya karena malam hari dengan penerangan silhuet petromak dari penjual martabak saja yang menerangi wajahnya sehingga aku tak melihat tahi lalat itu?

“Apa yang harus saya tulis tentang Anda, Sus ?“ tanyaku ketika Suster Ezra tak juga buka mulut kendati keakraban sudah melingkari diri kami. Aku pegang tangan Suster Ezra. Angin Mattirosompe bertiup pelan. Suara galau karaoke dari penjual kaset kaki lima memekakkan telinga.

“Sebaiknya kau tidak penlu memanggilku Sus. Panggil saja Ezra, seperti dia selalu memanggilku dengn mesra.”

“Dia ? Dia siapa ?” tanyaku. Suster Ezra diam. Apa dia ngelindur. Terasa ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. Dia tarik nafasnya, lalu dihembuskannya pelan. Jauh. Lamat-lamat. Lalu dia tertunduk meraba-raba kancing bajunya, seperti anak kecil yang kepergok bersalah.

Aku menyalakan sebatang rokok.

Menghisapnya dalam-dalam.

Lalu menghembuskannya ke udara sambil memperhatikan asapnya mengabur tertiup angin dan ikut andil membuat polusi. Sementara itu, suara galau dari kaki lima terus mengganggu. Juga suara bising kendaraan yang memasuki arena pantai sepanjang tanggul yang membentang ke utara.

Aku menarik tangan Suster Ezra, mengajaknya menyisih ke dekat monumen perahu yang baru saja dibangun Pemda Parepare untuk mempercantik kota. Di situ suasana lebih tenang. Tanggul agak menjorok ke luar dan jauh dan kaki lima yang bising.

“Ngomonglah Ez, aku janji akan menjadi pendengar yang setia.”
Suster Ezra mendongak menatapku. Matanya berkaca-kaca. Dan bibirnya yang tipis seperti bibir ‘Monalisa’ bergerak-gerak sangat misterius. Sayangnya, aku tak bisa menduga apakah ia masih menganggap aku sebagai orang asing sehingga ragu untuk membagi rahasia, atau sedang memposisikan aku sebagai pacarnya yang minta keyakinan melalui sebuah kecupan. Tapi aku yakin, ada sesuatu pergolakan yang terjadi di hatinya. Dan aku yakin itu adalah sebuah kisah tragedi.

Seharusnya memang aku memeluk dan mengecupnya untuk memberinya keberanian bicara. Lagi pula kondisi di sekitarku memberi peluang untuk melakukannya. Tapi dia memintaku datang untuk menemuinya sebagai wartawan, atau paling tidak sebagai penulis cerpen dan dia akan memberi bahan padaku tentang dirinya sendiri. Maka naluri kepengaranganku pun mulai bekerja, mendesak libido yang dulu pernah kukagumi dari psikoanalisa Freud. Aku mulai mereka-reka sebuah jalan cerita yang mungkin akan dikatakannya. Ya, sebuah cerita patah hati karena ditinggal sang kekasih. Boleh jadi kekasihnya menghianatinya. Lalu ketemu aku yang mirip kekasihnya namun sangat lain dalam prilakunya karena aku sangat memperhatikannya. Lalu,…ah, sudahlah ! Karena ujung-ujungnya pasti akan tergelincir ke sebuah cerita picisan.

“Katakanlah apa yang ingin engkau katakan. Di sini kita hanya berdua. Jadi tak perlu sungkam. Percayalah, saya tidak akan menulis hal-hal yang Ezra minta untuk di-off the record. Sebagai wartawan saya menghormati hak dan privasi sumber. Jangan takut. Sumber dilindungi undang-undang pokok pers. Kalau kau minta, saya tidak akan menulis nama kecuali nama samaran. Atau saya tidak akan membuatnya menjadi berita, tapi menjadi cerpen, ya cerpen. Dan saya akan menambahkan di ujung cerita bawa cerpen ini hanya fiksi belaka. Lokasi, peristiwa dan pelaku yang diceritrakan tak ada hubungannya dengan kenyataan. Biar orang yang membacanya mengira kisah itu benar-benar hanya sebuah karya fiksi. ” bujukku.

“Bukan itu persoalannya” katanya.

“Lalu apa ?“

“Terus terang, saya sayang padamu. Saya tidak tahan bila engkau menatap wajahku. Kau sangat mirip dengan dia. Tapi kau bukan dia, aku sadari itu. Karena dia sudah meninggal.

Tapi sejak bertemu denganmu di rumah sakit saya merasa dia liidup lagi. Dan itu sangat mengganggu. Karena itu saya ingin menyesal. Ingin menunjukkan penyesalanku padanya melalui dirimu. Kau mau mendengarnya, kan ?”

Aku mengangguk seperti boneka yang disetel.

“Saya ingin menangis seperti dulu saya menangis di tempat ini karena dibakar rasa cemburu yang membawa malapetaka. Dua tahun lalu dia membawa perempuan di pantai ini dan aku memergokinya. Aku mengamuk lalu menangis sejadi-jadinya. Bahkan sudah melompat ke laut andaikata dia tidak segera menahanku. Dia membujukku dan memberi pengertian. Tapi saya tak mau mendengarnya. Kedua telingaku saya tutup dengan telapak tangan. Saya pikir mentang-mentang dia prajurit dia sudah bisa membawa perempuan seenaknya. Padahal dia sudah melamarku dan semua keluargaku sudah mengetahui hal itu. Juga komandannya, karena saya sudah dia bawa menghadap. Saya terus menangis tanpa peduli orang-orang di sekitarku. Tak berhasil dia membujukku dia mencabut pistolnya, mengarahkan moncong pistol itu ke jidatnya.”

“Dia menembak dirinya ?“ tebakku.

“Tidak. Dia hanya mengancam. Tapi aku begitu kaget dan melompat merebut pisto itu. Saat itulah tanganku tak sengaja menyentuh pelatuk pistol itu dan tiba-tiba terdengar ledakan. Dia roboh dengan dagu bersimbah darah. Rupanya peluru pistol itu mengenai dagunya sebelah kiri, tembus ke tengkuknya. Saya pun memeluknya, meraung-raung minta pertolongan. Dibantu perempuan yang bersamanya malam itu aku membawanya ke rumah sakit. Namun di tengah jalan dia menghembuskan nafas.

Perempuan itu meraung dan ingin menerkamku. Tapi kemudian dia sadar dan memelukku. Ini bukan salahmu, katanya. Ini salahnya sendiri. Sejak kecil dia memang suka emosi dan kurang perhitungan, katanya menangis terisak-isak.

Belakangan baru saya tahu bahwa perempuan itu kakaknya dari Jawa yang baru saja dijemputnya dari pelabuhan. Perempuan itulah yang menyelamatkanku di pengadilan dari tuduhan telah membunuh seoraug prajurit. Saya sangat menyesal dengan kejadian itu…”

Suster Ezra menangis. Aku berusaha menenangkannya. Aku memeluknya, mencium jidatnya, seolah-olah aku pacarya. Aku sudah memastikan sekarang peran seperti itulah yang diinginkannya dariku. Aku tidak ragu lagi. Namun aku tak bisa juga mencegah tumpahan air matanya.

Setelah dia berhenti menangis aku sudah berani menanyakan soal tahi lalat yang telah membuatku penasaran itu.

“Itu hanya tahi lalat palsu untuk menandai penyesalanku pada tragedi itu. Tapi saya telah menghilangkannya setelah menyadari bahwa seseorang yang mirip dia telah memperhatikannya setiap saat.”

Aku menyapu-nyapu dagunya dengan telapak tangan. Benar, tahi lalat itu kini sudah tidak ada. Yang terasa di telapakku adalah kulit halus yang licin bagai porselin.

Akupun segera melepaskan pelukan. Takut istriku memergoki dan membuatnya menangis meraung-raung karena di bakar cemburu, lalu aku…. bunuh diri dengan menusuk tenggorokan dengan sebatang pena yang masih kupegang.

Aku mengantar Suster Ezra pulang dan mencoba melupakan peristiwa itu.

(Cerpen ini hanya fiksi belaka lokasi, peristiwa dan pelaku yang diceritrakan tak ada hubungannya dengan kenyataan)

 

2 Tanggapan to “Tahi Lalat Suster Ezra”

  1. […] Here is the original post: Tahi Lalat Suster Ezra […]

  2. Great site this badaruddinamir.wordpress.com and I am really pleased to see you have what I am actually looking for here and this this post is exactly what I am interested in. I shall be pleased to become a regular visitor🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: