Si Baju Merah

Cerpen Badaruddin Amir

Sumber: lelang-lukisanmaestro.blogspot.com

Namanya Edy. Orangnya sederhana. Selintas dia nampak sebagai seorang penurut yang suka meuggigit jari jika bertemu dengan persoalan-persoalan yang pelik. Tapi dia tidak goblok. Menurutku dia agresif dan mampu bermuka tebal ditengah orang banyak. Dia berkulit hitam manis dengan rambut yang dimodel ala ”funk”. Menurutku rambutnya semula keriting seperti rambut gadis-gadis rimba pedalaman pulau kepala burung, Irian. Dia mengenakan kaos merah dengan tulisan putih di dada berbunyi : “TO BE OR NOT TO BE, THAT IS THE QUESTION”, yang kukira adalah petikan dari drama Shakespeare, “Hamlet” –yang terjemahannya cukup rumit itu. Dia memakai short hitam yang pendeknya sampai selutut saja itu. Tahu toh, celana pendek itu, yang lagi jadi trendy dikalangan anak gadis yang berangkat dewasa di zaman edan ini.

Aku ingat betul awalnya. Malam itu dia duduk tak jauh dariku. Bayangkan dia merenungi meja sambil menggigit kuku jarinya, padahal gadis-gadis lain pada sibuk dengan berbagai aktivitas yang ringan-ririgan. Ada yang mencuci piring, ada yang mengatur kursi, membenahi meja makan dan lain-lain. Pokoknya tak ada yang iseng kecuali dia. Barangkali ada juga satu dua di antara mereka yang setempramen dengan dia, tapi mereka tak berani bermuka tebal, mempertontongkan keisengannya.

Seperti kebanyakan orang yang hadir pada pesta pernikahan sahabatku itu, semuanya memang masih asing bagiku. Dalam pandanganku, wajah-wajah mereka bagaikan baru muncul dengan begitu saja dari dinia mimpi. Dalam keisengan, –yang andaikata ada yang tahu akan menuduhku tak waras, aku membayangkan kemistriusan wajah-wajah mereka satu persatu. Sangat menakutkan. Terutama wajah Edy. Raut muka dan sungging senyumnya bagaikan bangkit dari dunia lain yang asing dan samar-samar.

Tapi siapakab Edy? Aku mengenal nama itu, sungguh di luar kesengajaan. Tiba-tiba saja nama itu jatuh dari langit-langit bawahsadarku. Dan begitu saja aku memungutnya sebagai nama untuknya tanpa ada kompromi. Maka akupun memanggilnya Edy.. Setelah itu, nama itupun melekat bagai nama seseorang sahabat yang sudah lama kukenal. Boleh jadi aku ngelindur, tapi aku tak mempersoalkannya. Ketimbang tak punya nama sama sekali, lebih baik aku memanggilnya Edy. Dan anehnya, dia rupanya tidak keberatan dengan nama tersebut.

Aku mungkin telah tersugesti oleh bayangan Edy. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Senyumnya yang mirip senyum “Monalisa” telah memaksa seluruh naluriku untuk mengakui kemisteriusannya. Karena itu aku mengejarnya. Aku ingin memperlakukannya sebagai kijang buruanku.

Usai berganti pakaian aku mencari-cari Edy di luar. Aku ingin memulai perburuanku. Tapi di luar aku tak melihatniya lagi. Beberapa gadis yang tadi bersamanya masih nampak bercanda, namun Edy tak ada lagi di antara mereka. Maka akupun melayangkan mata ke setiap penjuru ruangan, memasuki semua kamar, dan menelusuri lorong-lorong rumah tingkat sahabatku itu. Sesekali mataku jatuh pada gambar-gambar poster yang tergantung di dinding, hanya untuk menghilangkan kepenasaranku, tapi Edy tak kujumpai juga.

Tiba-tiba pada salah satu poster aku melihat wajah seorang gadis berbaju merah dengan rambut keriting ala “funk”. Matakupun seperti digelitik. Aku mendekat. Memeriksanya secara seksama. Beberapa orang terbengong-bengong melihat tingkahku. Beberapa gadis yang tak ada kerja di sudut berbisik-bisik. ”Hey Mer, lihat tuh Pak Mandor, lagi jatuh cintrong sama poster !”

“Iya, ya. Mungkin poster itu mirip pacamya !“

“Hussst. Mulutmu ! Ntar kedengaran sama Bu Mandor “

Kemudian gadis-gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

Di depan poster itu aku menggosok-gosok mataku. Nanap aku pandangi wajahnya, rambutnya, bajunya. Betul, dia Edy. Tapi mengapa bisa menjelma pada poster begitu cepatnya? Kesamaran pada mataku menyebabkan aku ragu-ragu. Aku menggosok-gosok mataku sekali lagi. Kesamaran itu lebih memberi kepercayaan sekarang. Ternyata apa yang kusangka sebagai potret Edy itu adalah sebuah poster dari seorang bintang film yang sedang tenar-tenarnya di layan perak. Rambutnya lurus tergerai sampai ke bahu. Dan bajunya, bajunya adalah sebuah model yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wananya biru!

Barulah aku menyadari bahwa aku telah tersedot oleh bayangan-bayangan Edy. Atas sadarku mencoba percaya bahwa mengejar bayangan bukanlah cara yang benar untuk rnendapatkan objek. Bayangan tak pernah mampu jadi objek. Namun bawahsadarku membisikkan bahwa Edy sebenarnya tak jauh dariku. Dia mungkin ada di sekitarku. Dia selalu ada di mana aku ada. Karena itu aku terus memburunya.

Bosan mengitari ruangan aku ke luar. Bayangan istriku kini menguasai pikiranku. Sekalipun istriku bukan seorang perempuan yang gampang cemburuan, aku khawatir kalau-kalau istriku dapat membaca pikiranku. Perempuan konon punya naluri sangat peka dalam membaca pikiran suaminya. Dia mampu membaca setiap perselingkuhan kendati masih dalam bentuk konsep atau gagasan. Ya, gagasan perselingkuhan ! Maka aku mencoba melepaskan pikiranku pada Edy.
Aku tiba-tiba digelitik penyesalan. Alangkah tololnya !. Telah membiarkan diri hanyut dalam ilusi-ilusi pikiran. Kalau sekedar sebagai bahan untuk menulis cerpen, mengapa harus sampai mengejar-ngejar objeknya secara pisikal. Imajinasi bagi pengarang sudah cukup untuk menelusuri setiap langkah dan jati diri buruannya. Apa dan siapa dia pun dapat kutuliskan sesuka hati dalam sebuah cerita fiksi. Toh tak perlu ada pertanggungjawaban untuk itu.

Di luar aku tarik sebuah kursi lalu duduk seenaknya. Tiba-tiba seorang anak kecil datang mendekat padaku.

“Pak. Bapak ada yang mencari !“ kata anak kecil itu sambil menarik lenganku.

“Siapa?”

“Seseorang.”

“Perempuan ?“

“Perempuan !“

Aku tegang sejenak. Aku menatap anak kecil itu. Kesungguhan terbayang pada matanya.

“Betul perempuan ?”

”ya.”

“Pakai baju merah ?“

“Ya !“

“???…?”

Aku keluar dituntun anak itu. Seorang perempuan berdiri di pintu menanti. Ternyata istriku, mengenakan bajo “bodo” warna jingga. Ternyata anak kecil itu belum dapat membedakan warna merah dan warna jingga dengan pasti.

“Pap, aku ganti baju, ya. Aku mau pakai baju merah “

Aku terperangah. Aku tidak tahu mengapa aku terperangah. Tapi aku yakin istriku tidak sedang menyindirku. Sinar-sinar matanya tidak ada memancarkan rasa cemburu. Juga sudut-sudut bibirya.

“Terserah !“ kataku.

“Aku ambilkan jasnya, Pap ?“

Aku mengangguk. Istriku naik kembali ke tingkat atas. Tak lama kemudian dia sudah datang lagi dengan membawa jas dan celana panjang pasangannya.

“Pakailah di kamar dalam. Di situ ada lemari cermin. Sudah hampir jam tiga ini!” katanya melihat jamnya, kemudian naik. Aku masuk ke kamar yang ditunjuk istriku. Di situ aku berganti pakaian. Jas dan celana panjang yang terbungkus koran segera aku buka Dan tampaklah secarik kertas bertuliskan sesuatu tergeletak pada lipatan jas itu: “Suamiku tersayang, selamat berganti pakaian !“ kata tulisan itu. Aku menggeleng -gelengkan kepala. Dan terbayanglah istriku semalaman marah-marah karena aku pulang larut malam. Mungkin semalam itulah dia menyelipkan tulisan itu, karena hari ini aku mesti membutuhkan jas itu.

Aku ganti celana di depan lemari cermin yang ada di sudut kamar itu. Bayanganku di dalam cermin ikut memasang celana pula secara bersamaan. Aku menatap bayanganku di dalam cermin, lama. Lama sekali. Aku terperangah. Barusan inilah aku memperhatikan benar sosok tubuhku inci demi inci dengan penuh perhatian. Ternyata goresan-goresan pada wajahku telah mengukir ketuaan. Aku menatap dadaku yang terbuka. Sebuah disain kulintang terpampang di situ. Aku menggosok-gosokuya. Tapi tidak hilang. Malah rajahnya tampak lebih jelas sampai memperlihatkan detil-detilnya. Bekas merah dari gosokan itu memberi latar belakang yang indah. Disain itu terbikin dari bahan tinta cina yang tak mudah luntur. Disain itu kubuat sepuluh tahun yang lalu, ketika itu aku masih remaja dan selalu meuitikkan air liur ingin jadi pelukis.
Karena mataku tertuju pada gambar kulintang itu, sadarlah aku bahwa aku belum mengenakan baju dalam. Buru-buru aku menyambar bajuku dari terali ranjang, kemudian memasangnya. Bayangan dalam cermin itupun ikut memasang bajunya.

Aku menatap letak bajuku kembali di cermin. Aku kaget mataku hampir-hampir tak percaya. Ternyata di dalam cermin itu sudah terbingkai dua tubuh manusia. Yang satu aku kenal sebagai tubuhku, mengenakan baju dalam yang baru saja kupakai, sedang yang satu lagi tubuh seorang perempuan berambut yang dimodel ala “funk”, mengenakan baju merah dengan tulisan putih di dada berbunyi “TO BE OR NOT TO BE, THAT IS THE QUESTION”! Dengan cepat aku menoleh ke belakang. Di pintu kamar itu berdirilah Edy dengan senyumnya yang misterius. Matanya menembak mataku.

“Kan ?“

“Ya, aku “

“Mengapa kau masuk di kamar ini ?“

“Karena kau gagal menjadi seorang pemburu yang baik !“

“Jadi kau tahu bahwa aku memperlakukan kau sebagai kijang buruanku ?“ kataku terus terang tanpa merasa bersalah.

“Lebih dan tahu !“

“Apa maksudmu ?”

“Aku tahu kau akan menjadikan aku bulan-bulanan pada cerpenmu. Kau akan menjadikan aku mahluk ciptaanmu, kemudian dengan sombong kau akan menganggap dirimu pencipta, pencipta yang belum tentu bisa berlaku jujur pada semua mahluk ciptaannya. Dengan kata-kata lain, kau mau menjadi tuhan yang tidak adil. Saya tahu dengan kemampuanmu yang bernama imajinasi itu, kau akan menggunakannya untuk rnembunuh atau melahirkan mahluk baru dalam setiap dunia imajiner yang kau cipta dengan seenak perutmu. Ini yang aku tidak suka. Kau barus tahu aku tidak suka diperlakukan tidak secara objektif. Sudah dua orang yang memperlakukan aku demikian. Seorang adalah pelukis. Dia melukis wajahku tidak dalam bentuknya yang objektif, dia melukisku dalam persepsinya sendiri yang ekspresionistik. Dan sekarang kau mau mencoba-coba pula hal yang sama meski dalam media yang berbeda. Aku tidak suka yang demikian.

Maafkanlah kalau aku telah mempermainkamu. Seharusnya memang kau hanya mengejar bayanganku. Bagi seorang pengarang gendeng seperti kau mengejar bayangan sudah cukup untuk berimajinasi. Tunggulah aku akan mengirimkan lebih banyak bayangan lagi dalam pikiranmu. Aku akan mengirimkan halusinasi dimana dan kapan saja kau berada.

Aku tertawa tadi ketika aku menggelitik perasaanmu dan kau jadi menyesal telah mengejarku. Mengapa menyesal ? Bukankah penyesalan tak berguna, kata pepatah lama. Yang berguna kini adalah tetap setia pada apa yang telah diyakini. Seperti tadi, waktu kau menyangka poster itu adalah posterku !“

Edy berhenti bicara. Dia mengawasi perubahan yang terjadi di wajahku. Setelah menyadari perubahan itu membekaskan warna lain pada air mukaku, dia menawarkan senyumya yang aneh. Senyum itu mengingatkanku pada “Monalisa” nya da Vinci.

“Kau gadis yang bertingkah aneh !“ kataku serak seperti baru saja bangun tidur.

“Tak ada yang aneh. Dunia ini tak ada rahasianya lagi. Orang kini sudah sampai pada puncak kemajuan iptek. Mengapa mesti heran pada kejadian-kejadian yang tidak seberapa. Bukankah kerja komputer sedikit hari lagi akan mampu melakukan kerjasama dengan parapsikolog untuk menguak rahasia dunia sampai ke lorong-lorong metafisika yang paling gelap. Apakah kau sebagai pengarang tidak mampu menangkap sinyal itu. Sebagai pengarang sebaiknya seorang futurolog supaya dapat membaca gejala alam yang belum datang. Persoalannya kini adalah ini !“ tunjuknya pada bajunya yang bertulis: TO BE OR NOT TO BE, THAT IS THE QUESTION.

Selesai berkata begitu Edy keluar. Sampai di pintu dia berbalik lagi dan berkata : “Tolong sampaikan salam saya pada sahabatmu yang pelukis gendeng itu. Katakan kebencianku padanya karena dia telah melukisku dengan tidak proporsional”.

Seperti kena sihir, aku baru terbebas setelah Edy menghilang di pintu. Sadarlah aku bahwa aku harus segera mengejarnya. Di luar kamar aku mencari-cari setiap sudut dan setiap tempat yang terjangkau oleh pengelihatanku. Tapi aku tak melihathya lagi. Sejauh mata memandang, aku hanya melihat orang-orang yang sibuk tak saling mengacuhkan. Kepada beberapa orang anak yang asyik bermain-main dengan temannya aku menanyakannya. Tapi mereka menggeleng. Tak seorangpun yang melihat ada seorang perempuan yang berbaju merah, bercelana puntung hitam dan berambut keriting ala “funk” keluar dari kamar itu.

Dengan perasaan bingung aku masuk kembali ke kamar itu mengenakan jas kemudian naik menemui istriku di tingkat atas.

Aku sengaja tidak menceritakan kejadian itu pada istriku. Aku khawatir jangan-jangan malah mengundang rasa cemburunya dan sama sekali tidak mempercayai ceritaku. Dan betul, ketika kami pulang ke rumah dan merasa tidak tahan untuk tidak menceritakannya, istriku geleng-geleng kepala tidak percaya. Dia memperingatkan kepadaku supaya kalau mau menulis cerpen tidak perlulah menghayal terlalu jauh. “Tidak baik untuk kesehatan jiwa, Pap !“ katanya. “Lebih baik cari bahan yang sederhana dengan kejadian sehari-hari yang realistis” lanjutnya.

xxxxx

BEBERAPA hari kemudian aku sudah melupakan peristiwa itu. Aku tidak tertarik lagi untuk terus menerus mempertanyakan pada diriku kejadian yang inkonvensional itu. Seperti kata istriku, aku mulai memperhatikan hal-hal yang sederhana saja dati kehidupan ini. Aku keluar memperhatikan kehidupan yang berlangsung di sekitar rumahku, di pasar-pasar, di terminal-terminal, di jalan raya-jalan raya kalau kebetulan aku keluar berjalan-jalan. Kejadian-kejadian itu aku catat dengan rapi dalam catatan harianku. Kadang-kadang kalau kejadian itu terlalu menggelitik benakku, aku berusaha menulisnya menjadi cerpen. Tapi tak jarang aku hanya sampai mencatatnya saja pada catatan harianku menjelang aku tidur.

Suatu sore aku berjalan-jalan ke rumah Nardi, sahabatku yang pelukis itu. Aku menemuinya sedang melukis. Seperti biasa kalau aku memergokinya sedang melukis, dia pura-pura tidak meugetahui kedatanganku dan kuasnya tambah bergairah saja mengoleskan cat pada kanvasnya. Sikapnya seolah-olah ingin mengatakan hahwa dia betul-betul seorang pelukis yang penuh konsentrasi dan tak mau diganggu. Begitu aku masuk di studionya, bau cat minyak segera menyengat hiduugku. Beberapa tube cat yang sudah kosong dibiarkan berserakan di lantai. Lantai itu sendiri kotor penuh coreng- moreng berbagai warna bagai sebuah lukisan abstrak tanpa unity, tanpa balance, tanpa moral!

Aku memperhatikan lukisannya dengan diam-diam. Ternyata yang dilukisnya itu adalah potret seorang gadis. Rambut gadis itu diniodel ala “funk” dan baju gadis itu merah dengan tulisan putih di dada berbunyi TO BE OR NOT TO BE… (bagian lain tak terbaca dengan jelas). Lukisan itu sendiri sudah setengah jadi. Barangkali tinggal memperjelas detil-detilnya saja lukisan itu sudah bisa dipajang di ruang pamer atau di dinding kamar. Melihat lukisan itu tiba-tiba aku teringat kembali pada Edy, gadis aneh berbaju merah dengan rambut keriting ala “funk” itu. Aku mendekati Nardi dan menanyakan gadis itu. Melalui Nardi aku berharap kemisteriusan gadis itu bisa tersingkap.

“Dia pernah tinggal di C,” katanya.

“Di C ?“

“Ya !“ kemudian Nardi mengalihkan perhatiatiku dengan bercerita banyak mengenai dunianya, dunia seni lukis. Tapi karena melihat aku tidak bersemangat betul meresponi ceritanya, dia mengalihkan lagi perhatianku mengenai seni sastra. Dia tahu aku doyan ngolor ngidul berbicara soal sastra. Dia bercerita padaku tentang cerpen dengan plot terbuka. Katanya, plot cerita yang terbuka sangat disukainya.

“Plot seperti itu sama dengan sebuah lukisan yang tak selesai konstruksinya,“ katanya.
Tapi akupun tetap tak bersemangat menanggapinya Soalnya, aku sudah menangkap sebuah pembelotan pokok pikiran yang akan mengarah ke dunianya, dunia seni lukis.
“Betul dia pernah tinggal di C ? Di lokalisasi WTS itu ?”

Nardi mengangguk. Tangannya berhenti memainkan kuasnya. Dia mundur beberapa langkah, memandangi lukisannya. Kemudian maju lagi beberapa langkah membubuhi tanda tangan pada sudut kanan bawah dari lukisan itu.

“Kelihatan memang tak selesai,” katanya, “tapi coba perhatikan dengan cermat, adakah yang terasa masih tak lengkap !”

Lalu dia mundur lagi beberapa langkah menatapi lukisannya nanap-nanap.

“lni yang saya maksud dengan plot terbuka pada lukisan,” katanya masih memancing aku berkomentar.

Tapi aku memang tak bernafsu menanggapinya. Yang aku tanyakan adalah model lukisan itu.
“Oh, gadis ini ? Namanya Edy. Dia seorang gelandangan yang brengsek. Dia pernah berguru padaku melukis. Dua tahun dia belajar melukis bersama dengan murid-mundku yang lain tapi tak maju-maju, Dia sebenarnya sangat cerdas. Namun dia tidak mau menerima sesuatu yang dianggapnya bertentangan dengan prinsipnya, kendati hanya sebagai bahan perbandingan untuk memperkaya karakternya sendiri.

Dia benci lukisan-lukisanku karena dianggapnya tidak proporsional, tidak sesuai dengan objek yang seharusnya. Awalnya memang dia cuma mengeritik. Tapi lama kelamaan dia tidak mengeritik lagi tapi memang sudah menolak dan memaki-maki lukisanku. Katanya, lukisan-lukisanku tidak bermoral, tidak punya mutu. Hanya orang-orang yang bodohlah yang mau membeli atau mengapresiasi lukisan seperti itu. Puncak kebenciannya ketika suatu hari dia memergoki aku sedang melukis potretnya, sebagai model lukisanku. Dia memaki-maki aku dengan kata-kata kasar kemudian pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Sebelum dia belajar melukis padaku, menurut pengakuannya, dia juga pernah mencoba-coba mengarang. Tiga tahun dia menggeluti dunia karang mengarang. Tapi tak satupun cerpennya yang berhasil lolos di meja redaksi majalah sastra. Padahal menurutnya dia telah banyak melakukan eksprimen-eksprimen sebagaimana yang dikehendaki redaktur-redaktur sastra itu. Hanya kalau cerpennya itu dikirimnya ke majalah kumpulan cerpen remaja yang terbit bagai jamur sekarang ini, barulah cerpennya nongol dengan ilustrasi yang terlalu mencolok.

Sejak kepergiannya itu dulu setelah memaki-maki aku, aku tak pernah lagi menjumpainya. Berkali-kali aku berusaha mencarinya di pusat-pusat keramaian kota, di pasar-pasar, di balai seni-balai seni, di sanggar-sanggar lukis, bahkan juga samai ke kantor-kantor redaksi beberapa majalah dan surat kabar, tapi aku tetap tak menjumpainya.

Tapi kini dia sudah tidak ada. Jadi tak perlu ngebet mencarinya.,” jelas Nardi.

”Aku tak mencarinya, Nar. Aku hanya menanyakan keberadaannya, Soalnya aku tak pernah mendengar nama itu di kalangan seniman.”

“Ya. Memang tak pernah karena dia sudah lama meninggal.”

“Meniggal ?“

“Ya, beberapa tahun yang lalu. Aku sendiri tak melihatnya, tapi berita kematiannya aku tahu melalui media massa. Suatu hari aku membacanya di salah satu koran lama yang sudah kumal. Di situ terpampang gambarnya, tergeletak di karnar mayat rumah sakit. Di situ, di bawah foto itu jelas sekali namanya terbaca tanpa initial. Seorang WTS benama Edy. kemarin diketemukan mati menggantung dirinya dengan seutas tali di bawah loteng tempat tinggalnya di C. Lalu di situ ada komentar kecil, Edy yang dikenal temannya sebagai bekas pengarang, bekas pelukis dan kemudian menjadi WTS itu, menurut beberapa sumber sedang mengidap “nausea”. Dia mempunyai persepsi yang aneh-aneh. Sekarang mayatnya ada di rumah sakit untuk kepentingan penelitian,”
“Hari ini,” kata Nardi lagi, “adalah hari kematiannya yang ke 1000. Sebagai bekas muridku, aku ingin mengenang kematiannya melalui sebuah lukisan yang paling dibencinya. Aku melukis lagi wajahnya. Seperti yang kau lihat lukisan seperti itu sangat dibencinya. Dan bahkan seandainya ia masih mengetahui bahwa aku melukisnya seperti itu maka arwahnya akan memaki-maki lagi aku,..”

Selesai cerita Nardi aku pulang tanpa permisi. Aku sama sekali tidak kaget dengan kejadian yang aku alami beberapa waktu yang lalu itu. Aku memang sudah menduganya demikian, Bahwa kejadian itu sangat irasional, memang sudah masuk dalam daftar dugaanku.

Sampai di rumah aku tidak menceritakan kepada istriku cerita Nardi. Aku khawatir istriku menganggap betul-betul aku sudak kerasukan penyakit jiwa.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: