Menunggu Paman di Halaman Schiphol

Cerpen Badaruddin Amir

 

Sumber: acinablog.wordpress.com

Berdiri di halaman depan bandara Schiphol, Amsterdam menunggu jemputan paman Willem, enam puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, barulah aku menyadari bahwa aku seorang keturunan Indo-Belanda.

Padahal selama ini aku merasa sebagai anak pribumi. Aku tak mau disebut keturunan Indo-Belanda. Karena kata “Indo-Belanda” di kampungku yang kecil dan berpenduduk rata-rata pejuang atau partisipan pejuang, kata itu punya konotasi jelek. Dalam ‘kamus’ penduduk kata itu bersinonim dengan kata ‘penghianat’. Anak-anak yang lahir dari rahim perempuan yang menjadi istri seorang Belanda dianggap sebagai “anak jadah”. Dan ibu-ibu yang melahirkan mereka, dianggap sebagai perempuan ‘jalang’, perempuan yang menyerahkan diri pada musuh untuk dijadikan gundik. Mereka dijauhi. Dikucilkan. Bahkan sampai kepada keluarga-keluarganya yang lain. Mereka dicibirkan oleh sesama pribumi. Tapi itu dulu !

Aku memang tidak mengalami masa itu. Masa yang oleh orang-orang tua di kampungku disebut “wettu ronta”. Masa yang penuh kekacauan dan pergolakan. Aku lahir setelah Indonesia merdeka. Hanya ayahku sebagai Indo-Belanda, sempat merasakan masa pahit pergolakan.

Sejak kecil aku sudah hidup dalam lingkungan anak pribumi dan bergaul akrab dengan mereka. Teman-teman “sawo matang” dapat memahami manakala warna kulitku agak lain. Lebih putih dari mereka. Tapi tak ada yang pernah menyinggung bahwa aku seorang keturunan penjajah. Kecuali jika mereka hanya main-main dan aku menerima hal itu sebagai kewajaran.

Dan kelihatannya masa lalu bagi orang tua mereka tidak lagi jadi penghalang bagi pergaulan kami. Apa lagi aku mereka kenal sebagai anak yang pintar dan berbudi pekerti yang baik. Sebuah citra yang terus kupertahankan hingga kelak akan memperbaiki silsilah keturunanku. Kerena seperti kata ayahku, sebagai seorang yang punya darah Indo-Belanda aku memang harus berbaur dengan pribumi dan mempraktikkan prilaku yang baik, suka menolong dan punya perhatian terhadap masyarakat kecil. Sebuah ajaran kehidupan yang mungkin diterimanya pula dari ayahnya yang masih Belanda totok itu.

Di sekolah waktu masih SD, waktu kepekaan kanak-kanakku pada lingkungan bermula, aku selalu menjadi idola. Ada anggapan bagi masyarakat di desaku yang diam-diam mengakui bahwa turunan Belanda itu memang pintar. Karena itulah aku dapat berbaur dengan mereka dan betul-betul sudah lupa bahwa aku turunan Indo-Belanda. Aku bermain sepak bola, bermain petak umpet, ataupun bermain perang-perangan dengan mereka. Tak ada masalah lagi. Semuanya menjadi kenangan masa kecil yang sangat indah. Anak-anak pribumi totok, selalu menganggapku sebagai teman akrab mereka. Hanya saja bila kami bermain perang-perangan, teman-temanku memang suka memberiku peran sebagai seorang Belanda. Itu karena warna kulitku memang lebih bule dari kebanyakan teman-teman pribumi.

“Kamu saja jadi Belanda, Rob. Kamu kan anak Belanda Bule. Kulit kamu putih. Pak guru bilang Belanda itu kan warna kulitnya putih kayak kerbau Bule !”

Dan aku tidak tersinggung disebut si anak Belanda Bule. Juga tidak tersinggung ketika mereka memberiku peran sebagai tentara Belanda. Walaupun skenario permainan itu selalu mereka yang atur dan aku tinggal menurut . Aku harus melawan mereka dengan menggunakan bedil dari pelepah pisang yang pangkalnya dibelah dua dan disanggah dengan lidi sehingga menyerupai senapan. Tapi dalam permainan aku harus kalah, kendati mereka hanya menggunakan bambu runcing yang juga dari pelepah pisang sebagai senjata. Karena demikianlah “skenario” cerita perjuangan yang kami ketahui dari guru dan dari berbagai buku bacaan. Kalau aku tak mau kalah dan terus melawan juga, karena aku memang lebih tangguh dari mereka, maka mereka semua protes dan segera berhenti bermain.

“Curang kamu, Rob. Kamu harus kalah. Kamu harus mati tertusuk bambu runcing. Kamu kan Belanda dan kami pejuang. Kami yang harus menang. Bukan kamu!” teriak mereka ramai.

Kalau kemudian demi persahabatan, aku terpaksa pura-pura kalah, pura-pura mati dan bergelinding di tanah dengan mengepik bambu runcing pelepah pisang itu di ketiak seolah-olah kena tombak, merekapun ramai berteriak “Horee, merdekaaa, merdekaaa. Belanda sudah kalah, sudah matiii !”

Itulah permainan masa kecil yang paling aku benci. Permainan yang seolah-olah merekonstruksi kembali kebiadaban manusia. Aku benci perang. Aku benci adegan-adegan saling membunuh seperi itu. Tapi aku sayang teman-teman. Aku suka mereka bergembira dan bersorak-sorak meneriakkan yel-yel kemerdekaan, menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan penuh semangat. Walaupun kami anak-anak belum tahu apa arti kemerdekaan kecuali kemenangan dalam perang melawan musuh.

Pada saat bermain perang-perangan seperti itulah aku selalu teringat cerita tentang kakek. Ya, kakekku seorang Belanda, yang oleh ayah selalu diajariku menyebutnya opa Chald. Aku tidak tahu nama asli kakekku, apakah ia bernama Chaldin atau Richald sebagaimana kebiasaan di negeriku menyebut singkatan nama. Aku juga tidak mengenal rupa kakekku. Aku hanya pernah melihat fotonya –sebuah foto hitam-putih berukuran kuarto– yang sudah kekuning-kuningan karena tuanya. Foto itu terbingkai dengan bagus dan tergantung pada dinding kamar tante Meriam, istri pertama ayah yang juga seorang Indo-Belanda.

Saat ayah membawaku ke rumah tante Meriam ia menunjukkan foto itu dan mengatakan “Itulah opa Chald, kakekmu. Ia seorang Belanda totok dan telah meninggalkan Indonesia akhir tahun 1943, saat Belanda bertekuk lutut pada tentara Jepang.”

“Tentara Jepang, kenapa bertekuk lutut sama Jepang, Ayah ?”

“Ya, demikianlah yang disebut kekuasaan anakku. Seperti roda yang bergulir. Saat Belanda berkuasa ia tinggal di atas, tapi setelah Jepang datang dan mengalahkannya ia pun dikejar-kejar. Tapi bagaimanapun keadaannya penjajah tetaplah jahat. Sejarah kita mencatat Jepang datang ke Indonesia dengan kedok sebagai saudara tua yang membantu mengusir pejajah Belanda. Padahal sesungguhnya mereka juga datang sebagai penjajah sama seperti Belanda !”

“Kalau begitu Jepang lebih jahat dari Belanda, ayah ?” kataku. Aku selalu memanggil ‘ayah’ pada Indo-Belanda yang melahirkanku ini.

“Tak ada yang lebih jahat, anakku. Semua penjajah sama jahatnya karena mereka pelanggar asas kemanusiaan dan keadilan. Bacalah pembukaan UUD negara kita. Di sana disebutkan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.”

“Kalau begitu, opa juga jahat. Opa kan salah seorang dari tentara penjajah !”

“Bukan hanya opa. Tapi bahkan bangsawan-bangsawan pribumi sendiri banyak yang jadi kaki-tangan penjajah. Opa hanyalah sebuah mor dari sebuah mesin raksasa yang bernama ‘negara’. Opa menjalankan tugasnya pada negara sesuai dengan sumpah setianya sebagai prajurit. Ratu Wilhelmina akan mengutuknya manakala ia melanggar sumpahnya. Tapi opa baik. Ia tahu di atas segalanya ada rambu-rambu kemanusiaan karena ia adalah seorang humanis. Opamu itu adalah seorang sastrawan. Di negaranya ia dikenal sebagai seorang penyair. Kelak kau akan tahu bagaimana pandangan seorang penyair pada yang bernama kemanusiaan. Opa sangat dekat dengan Multatuli. Ia seorang pengagum Multatuli. Dan kita sebagai keturunan lahir karena takdir. Bukan karena kemauan untuk menjadi seorang keturunan penjajah ….”

Aku bingung dengan penjelasan ayah. Tapi aku merasakan getar rasa simpatinya pada penderitaan yang dialami oleh masyarakat pribumi akibat penjajahan sekian ratus tahun lamanya.

Opa Chald adalah seorang laki-laki ganteng. Foto mudanya itu mirip sekali dengan ayah. Ia berperawakan tinggi dan berkulit putih dengan bulu-bulu kasar seperti bulu-bulu kerbau. Dalam foto itu opa Chald mengenakan seragam militer, lengkap dengan topi baja dan senapan dengan bayonet di ujungnya.

Kata ayah, opa Chald dulunya bertugas di desa kami. Tapi tak sama dengan tentara Belanda lainnya yang di mata pribumi pada umumnya dicap kejam, tak berprikemanusiaan, dan suka merampas hak dan menganiaya pribumi. Opa Chald sebaliknya. Ia dikenal oleh pribumi sebagai opsir Belanda yang baik, suka membantu, memberi obat-obatan dan makanan dari ‘langit’ (begitu mereka menamai kornet sapi atau ikan kaleng) kepada pribumi.

Ayah bercerita bahwa kakekku, Opa Chald sebelum ikut wajib militer di negaranya adalah seorang penyair dari generasi setelah ‘De Tachtigers’ (Gerakan ‘80). Kata ayah, opa Chald mengenal dengan baik karya-karya sastra karangan Louis Couperus, E.Breton de Nijs, sajak-sajak Willem Kloos, Jan Jacob Slauerhoff, Hendrik Marsman, dan tentu saja juga Max Havelaar-nya Multatuli alias Douwes Dekker, yang sekarang semuanya masih tersimpan rapi di lemari tua rumah tante Meriam, istri pertama ayah itu.

Selain dari ayah aku juga banyak mengetahui riwayat opa Chald dari cerita seorang veteran tua berkaki sebelah yang kami panggil kakek Kasan. Kakek yang kehilangan kaki kanannya di zaman revolusi ini sering bercerita bahwa kakekku adalah seorang opsir Belanda yang gagah berani dan baik hati. Ia sangat berbeda dengan sekian tentara Belanda yang pernah bertugas di kampungku. Menurut kekek Kasan yang saat ini hidup sebatangkara dengan tunjangan pemerintah Indonesia sebagai veteran penyandang cacat, opa Chald adalah seorang tentara Belanda yang suka menolong. Ia baik meskipun oleh para pejuang ia tetap dianggap sebagai musuh yang harus dihabisi manakala ada kesempatan.

Oleh masyarakat sipil opa Chald dipanggil dengan nama “Tuan Pute”, artinya tuan yang berkulit putih. Gelaran ini adalah gelaran kehormatan yang diberikan masyarakat kepadanya, karena “Pute” menjadi simbol perbuatan baik.

“Tuan Pute-lah yang menyelamatkanku saat aku tertangkap Belanda setelah kena mortir dulu. Dialah yang mengobati kakiku sehingga tidak infeksi meski harus diamputasi. Dia jugalah yang membelaku sehingga tidak jadi dibuang atau dibunuh. Aku berhutang nyawa kepadanya.” Kata Kakek Kasan suatu hari kepadaku.

Kakek Kasan bercerita, sewaktu ia ditangkap Belanda bersama beberapa geriliawan lainnya mereka disiksa. Disuruh mengaku sebagai ekstermis. Tapi tak ada yang mau mengaku. Mereka bungkam meski siksaan datang bertubi-tubi. Akhir dari siksaan itu adalah ketika mereka akan diangkut dengan mobil truk entah ke mana. Saat itulah opa Chald datang dan berdiplomasi dengan komandannya. Ia mengatakan bahwa demi kemnusiaan, tawanan yang kakinya kena mortir itu harus diobati dulu. Rupanya komandannya mengerti perasaan Opa Chald. Ia tahu opa Chald bukan tentara biasa, tapi juga seorang seniman yang punya kepekaan dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Opa Chald pun disuruh mengobati dan kemudian mengirim kakek Kasan ke seorang dokter Belanda untuk diamputasi. Maka selamatlah kakek Kasan. Ia tidak jadi dibuang atau entah dibunuh di tempat yang tak pernah mereka ketahui itu.

“Tapi sekarang Belanda tidak lagi menjadi musuh kita, Kek . Belanda malah baik. Banyak bantuan yang diberikan ke Indonesia. Terutama bantuan kemanusiaan dan bantuan di bidang pendidikan !” kataku .ketika kakek Kasan menceritakan hal itu.

“Ya, sekarang memang tidak lagi. Kita sudah merdeka. Sudah lama merdeka. Tapi trauma masa lalu tetap menjadi bahagian dari kehidupan kakek dan para gerilwan lainnya yang susah dihapus begitu saja. Kami yang masih hidup dan tak beruntung punya kedudukan yang layak setelah merdeka karena berpendidikan rendah tak dapat berbuat apa-apa. Giliran kalianlah yang muda-muda untuk bangkit mengisi kemerdekaan yang telah kita rebut dari tangan penjajah. Tuntutlah ilmu sebagai hak dan kewajiban kalian, meski sampai ke negeri Belanda !” kata Kakek Kasan berpetuah.

xxXxx

Dan kini aku memang sudah berada di negeri Belanda dengan tujuan untuk menuntut ilmu. Aku akan melanjutkan pendidikan tingkat Master pada salah satu Perguruan Tinggi di negara ini.

Aku baru saja keluar dari bandara Schiphol menuju ke halamannya untuk menunggu paman Willem —saudara tiri ayah yang juga tak pernah aku kenal ini–, ketika sekonyong-konyong seorang orang tua memakai syaal yang kumal dengan janggut putih lebat seperti Hemingway menegurku.

“Mau ke mana, Nak ?” sapanya dengan bahasa Indonesia yang lumayan pasih.

Aku kaget mendengar ia dapat berbahasa Indonesia. Padahal lelaki tua itu sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri orang Asia, apalagi Indonesia. Ia berkulit putih, sudah berkerut, dan sedikit bongkok namun perawakannya tinggi besar.

“Aku mau ke…” aku butuh membuka catatanku untuk menyebut tujuanku. “ke…Haarlem, ya ke Haarlem. Bapak tahu Haarlem ?” tanyaku.

“Oh, itu tak terlalu jauh dari sini. Ada jemputan ?”

“Ya.” kataku. “Aku menunggu paman Willem !”

“Kalau begitu, mari menunggunya di sana !” ia menunjuk tempat duduk yang kebetulan masih ada yang kosong.

Aku membuka tas punggung, mencari sebuah foto di antara berkas-berkas kepentingan kuliah yang kubawa. Foto itu adalah foto opa Chald yang dulu tergantung pada dinding kamar Tante Meriam. Foto itu diberikan ayah kepadaku beberapa tahun lalu sebelum ayah meninggal. Waktu ayah memberikan foto itu ayah berpesan, “jika kamu sudah mapan carilah opa Chald atau paman-pamanmu di negeri Belanda dan jalinlah hubungan keluarga dengan mereka. Aku yakin anak-anak opa Chald sangat baik dan sangat menghargai kita, walaupun kita hanya Belanda turunan.” Kata ayah. Dan foto yang sudah kubuka bingkainya itu kini menemaniku sampai ke negeri bawah air ini. Copy foto ini juga telah aku kirim kepada paman Willem melalui internet untuk meyakinkan dia bahwa aku adalah keluarganya. Aku melacak keluarga opa Chald dengan browsing ke berbagai provider dan penyedia sarana komunikasi lain hampir setahun, barulah menemukan nama Willem yang mengaku anak opa Chald. Aku kemudian berhubungan dengan Willem melalui e-mail selum betul-betul mewujudkan niatku untuk melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda dan sekaligus bertemu dengan keluarga Opa Chald memenuhi harapan ayahku, sekaligus juga memenuhi harapan Kakek Kasan.

Aku menunjukkan foto itu kepada lelaki tua yang ramah ini. Aku kira lelaki tua ini sejaman dengan kakek. Ya, siapa tahu ia mengenal kakek, dan dapat memberikan informasi yang berarti bagiku.

“Aku sudah menduga sejak di pintu ke luar tadi, anak pasti seorang keturunan Belanda meskipun bermata hitam dan berambut hitam. Anak kuliah di sini ?”

“Aku baru mau kuliah. Aku mengambil beasiswa yang diberikan NUFFIC.”

“Oh. “

“Bapak kenal orang ini” kataku menunjuk foto opa Chald. Lelaki tua itu mengamatinya dengan teliti. Mendekatkan ke matanya. Lalu mengangguk dan menyerahkannya kembali kepadaku.

“Chald, oh Chald !” gumamnya.

“Di mana dia sekarang, Pak ?” tanyaku.

“Dia sudah meninggal. Sudah lama meninggal. Tinggal anaknya sekarang. Tapi saya tidak tahu nama dan alamatnya. Apakah dia opa kamu ?”

“Ya. Dan paman Willem yang aku tunggu adalah pamanku, saudara tiri ayah. Dia tinggal di Haarlem.”

“Beruntung sekali si Chald itu.” Gumamnya lagi dengan suara rendah.

“Bapak sepertinya kenal baik dengan opa ?” kejarku.

Orang tua itu mengangguk. Lalu dengan suara yang memendam nostalgia ia bercerita bahwa ia pernah sama-sama dengan opa Chald bertugas di Indonesia yang masih disebutnya Hindia Belanda pada tahun 1938 sampai awal tahun 1947, enam puluh sekian tahun yang lalu.

“Aku punya istri dan seorang anak di Hindia Belanda. Tapi aku tak pernah melihatnya. Juga tak pernah berhubungan lagi dengannya. Keluarga istriku selalu melihatku sebagai musuh. Bahkan ketika Jepang datang, keluarga istrikulah yang menunjukkan persembunyianku serta ikut mengejar-ngejarku hingga tertangkap dan dipenjarakan Jepang sebelum dikembalikan ke Belanda. Aku rindu pada anakku. Mungkin sekarang ia sudah beristri dan aku sudah punya cucu pula sebesar kamu. Aku sangat ingin melihatnya. Tapi ah, sudahlah itu tidak mungkin terjadi. Karena nama anakku saja tidak kuketahui, apalagi cucuku. Aku meninggalkan anakku ketika ia masih kecil, kira-kira baru berumur dua tahun.”

“Bapak bertugas di mana di Indonesia dulu ?”

“Aku di Batavia, tapi pernah juga dikirim ke Celebes saat pasukan Raymond Westerling sudah mendarat di sana akhir tahun 1946. Tapi aku bertemu Chald di Batavia. ” katanya.

“Celebes ? Di Sulawesi ? Di Sulawesi mana Bapak pernah bertugas ?”

“Di Barru. Di Selbesteuur Barru, Afdeling Parepare itu!”

“Oh, saya juga tinggal di situ, Pak. Namanya sekarang bukan lagi selbesteuur, tapi Kabupaten Barru. Saya orang Barru. Orang tuaku juga orang Barru. Tapi mereka semua sudah meninggal. Ibuku perempuan pribumi sedang ayahku keturunan Indo-Belanda !” kataku sambil mengulurkan tangan. Ia menyambut tanganku. Dingin. Lalu ia memperhatikan wajahku nanap-nanap. Seperti dokter memeriksa gejala penyakit cacar. Kemudian bercerita lagi bahwa ia pernah tinggal di Barru sekitar tahun 1947 sebagai tentara petualang membonceng pasukan Westerling.

“Ya, tentara penjajah!” katanya bernada sinis. “Aku termasuk salah seorang saksi mata yang turut pula bertanggung jawab atas korban 40 ribu jiwa yang terjadi di Celebes itu. Aku selalu merasa dikejar oleh dosa dan aku kini menjadi pendeta jalanan yang berkotbah menyampaikan kebaikan di mana-mana. Aku berkeliling membawa suara Tuhan untuk menyampaikan cinta, kebaikan dan perdamaian. Tidak peduli apakah orang menerima atau menolaknya. Aku bekerja terus sebagai gembala yang tak perlu punya domba lagi.

Ya, aku tahu selama ini mereka hanya mencibirkan khotbah-khotbahku dan menganggapku orang gila, orang gilaaaa…” kata orang tua itu lalu menangis tersedu-sedu. Kemudian bangkit. Meninggalkanku dalam keadaan melongo.

Aku kaget. Khawatir ada kalimat atau tindakanku yang membuatnya tersinggung. Aku berdiri. Berteriak memanggilnya.

“Pak tuaa, pak tuaaa !” Tapi orang tua itu terus berjalan juga tanpa menghiraukan teriakanku. Orang-orang menontongku. Aku terus berteriak memanggilnya tapi orang tua itu terus berjalan juga tanpa menoleh lagi sedikitpun.

Kemudian aku melihat ia menyelinap di antara orang-orang. Berkhotbah di tengah keramainan yang tak saling memperhatikan. Seperti seorang penjual obat di pinggir jalan. Mulutnya berbusa-busa. Meneriakkan sabda-sabda yang dikutip dari kitab Taurat, Zabur, Injil, dan kadang-kadang juga ayat Alquran yang lafalnya kurang fasih. Lalu menutup kotbah singkatnya dengan sebuah nyanyian mazmur. Kemudian pamit dengan takzim pada khalayak yang tak mengacuhkannya, berpindah lagi ke tempat lain. Berkotbah. Mengutip sabda-sabda dan ayat-ayat dari berbagai kitab suci. Menyanyi dengan nyanyian mazmur. Pamit dengan takzim. Pindah lagi ke tempat lain yang ramai seperti pengamen. Tapi aku tak melihat seorangpun yang tertarik memperhatikan kotbahnya. Apalagi memberinya sedekah sebagaimana pengamen di negeriku.

Aku kembali duduk di bangku tunggu itu. Mengeluarkan lagi foto opa dan memperhatikannya lebih seksama. Ah, banyangan orang tua itu sangat mengganggu pikiranku. Apakah mungin ia opaku ?

Tak jauh dariku seorang cewek tingi langsing berambut pirang dan bermata biru, berteriak-teriak memanggil seseorang sambil mengacungkan sepotong karton bertuliskan sebuah nama.

“Robert Malewa, Barru, Indonesia. Rober Malewa, Barru Indonesia !” teriaknya berulang-ulang.

Aku melompat menemuinya. Sudah pasti itu penjemputku. Tapi mengapa seorang cewek, bukan paman Willem seperti yang kutunggu-tunggu.

“I am Rober Malewa !” kataku dalam bahasa Inggris. Aku sama sekali tak paham bahasa Belanda. Dan memang bahasa Inggrislah yang menjadi persyaratan untuk mengambil bea siswa NEP (Nederland Fellowship Program). Harus lulus International TOEFL dengan nilai minimal 550.

Gadis itu memelukku. Wangi tubuhnya menghambur. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Maria Dermout, seperti nama pengarang “De tienduizend digen” (Taman Kate-Kate). Ia adalah anak Paman Willem. Jadi ia adalah sepupuku.

“Aku kuliah di University of Groningen. Dan saya kira anda juga akan kuliah di sana nantinya” katanya dalam bahasa Inggris yang pasih. Aku mengangguk. Kagum. Tersenyum dan memperhatikan betapa cantik sepupu Belandaku ini. Bersyukurlah aku bisa bertemu dengan bidadari Haarlem ini.

“Anda mau istirahat dulu di rest, sebelum berangkat ke rumah ?”

Aku menggeleng dan bilang sudah cukup istirahat menunggunya. Ia kemudian membawakuku ke tempat parkir. Di sana sebuah sedan ford yang dibawanya sendri membawa kami ke Haarlem.

Sepanjang jalan aku melihat kebun-kebun tulip membentang amat luas. Bunga-bunganya bermekaran. Ada yang kuning dan ada yang pink. Melambai-lambai seolah mengucapkan selamat datang di negeri kincir angin yang sejuk ini. Sementara di sampingku bidadari Haarlem yang cantik terus juga mengoceh dalam bahasa Inggis yang pasih, menjelaskan berbagai tempat yang kami lalui. Sebelah tangannya memegang stir dengan santai, sebelah lagi masih melekat di tanganku sejak dari bandara.

Tak lama kemudian akupun tertidur dan orang tua yang mengaku pendeta jalanan itu terus juga melayap dalam mimpiku.

 

2 Tanggapan to “Menunggu Paman di Halaman Schiphol”

  1. sangat menarik ceritanya,saya mau tanya apakah dibelanda ada suatu organisasi yg menangani mslah anak keturunan tentara belanda yg ingin mencari ayahnya!

  2. sangat menarik ceritanya,saya mau tanya apakah dibelanda ada suatu organisasi yg menangani mslah anak keturunan tentara belanda yg ingin mencari ayahnya! karena keinginan terbesar orangtua saya adalah bertemu dng bpknya ,yg plng ke belanda pada tahun 1949 dan pada waktu itu ayah saya msh dlm kandungan,berumur 3bln

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: