Surat-Surat

Cerpen Badaruddin Amir

 

Sumber: fineartamerica.comSejak orang percaya ‘misteri’ kata-kata (katakan saja sejak Plato !) sebagai kuda tunggangan pengertian, alat paling komunikatif dan paling banyak digunakan orang untuk menyampaikan pesan kepada orang lain adalah surat. Ketika jaman teknologi belum canggih dan jaringan komunikasi belum sepesat sekarang ini, surat ditulis di atas kain sutra dikirim kepada raja-raja lalim maupun yang bijaksana untuk mengabarkan perang atau perdamaian. Ketika jaman nenek moyangku yang kesekian masih hidup, surat sudah juga dipakai sebagai alat komunikasi. Ditulis dalam bentuk khusus dengan aksara lontarak manuk-manuk di atas lembaran yang disebut ‘lepo’, sehingga disebut jugalah ‘surek lepo’. Dalam beberapa legenda, ‘surek lepo’ tidak saja dipakai sebagai media komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada manusia. Tapi juga kepada bangsa jin, mambang, dewa-dewa dan sebangsanya. Juga menjadi media untuk mendapat informasi dari alam gaib, alam supranatural. Seperti meramalkan suatu kejadian atau seseorang yang bakal lahir di dunia ini. Itulah keunikan ‘surek lepo’ yang diceritrakan dalam mitos-mitos kebudayaan daerah kelahiranku. Sayang sekali baik bukti maupun keterangan filologi mengenai hal tersebut tidak dapat diketemukan lagi. Ia betul-betul hidup dalam dunia dongengan. Dalam dunia nenek moyangku yang suka mempercayai tahyul !

Tapi meski teknologi bidang informasi sudah sedemikian canggih, surat masih juga sebagai alat komunikasi paling efektif. Paling tidak surat dianggap memiliki nilai etis untuk ‘menghormati’ hubungan antara manusia. Boleh jadi kau menganggap ini pendapat keliru. Tapi ada sebuah cerita ketika aku masih kecil dan membutuhkan surat. Ya, surat sebagai alat komunikasi. Surat sebagai media untuk menyampaikan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanku. Sebagai mana dulu R.A. Kartini menyampaikan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya kepada sahabat-sahabatnya orang Belanda.

Waktu itu aku benar-benar butuh surat. Bukan hanya sebuah. Aku butuh beratus-ratus buah. Bahkan mungkin beribu-ribu buah surat untuk menjalin hubungan dengan beribu-ribu manusia yang ada di planet bumi. Aku butuh hubungan komunikasi dengan tokoh-tokoh yang pernah menggemparkan dunia. Aku butuh hubungan dengan Corazon Aquino, Arroyo, sekaligus dengan jendralnya yang membangkan. Aku butuh hubungan dengan George Bush, sekaligus dengan Osama Bin Laden, Saddam Husein, serta para penentang Bush lainnya. Aku butuh hubungan dengan para Jendral Israel sekaligus dengan para tokoh yang mempertahankan hak-haknya di jalur Gaza dengan berbagai perlawanan. Bukan itu saja. Aku juga butuh hubungan dengan orang-orang yang tidak terkatakan. Beribu manusia yang hidup dibawah tekanan kekuasaan, kemiskinan dan penderitaan eksistensial baik karena keadaan yang telah memaksanya maupun karena ulahnya sendiri.

Aku pernah menghayal akan menulis surat kepada semua manusia di pelanet bumi ini. Namun celakanya, aku tidak pernah dapat mewujudkannya. Tahu sebabnya ? Di samping aku belum mapan, aku juga belum mau jadi miskin lantaran mejual semua harta warisan ayah almarhum –yang tidak begitu banyak, untuk membiayai perangko. Juga aku takut seperti Gopalkrishna dari India. Ia berkorban demi hubungan antara mahluk penghuni ribuan planet di gugusan bimasakti ini. Ia membuang-buang waktu dan dana selama puluhan tahun menyusun bahasa persatuan Bimasakti bernama ‘Abasama’, dan setelah proyeknya hampir rampung, tak seorangpun yang dapat mengerti bahasa itu.

Namun setelah mengerti aksara, dapat membaca dan menulis dengan baik, aku bertekad memulai proyek ini. Aku mengambil setumpuk kertas dari laci kakak — kakakku yang semata wayang. Lalu mengetik tiga puluh buah surat sebagai langkah awal mewujudkan keinginanku. Ke tiga puluh buah surat tersebut aku tujukan kepada tiga puluh presiden dari tiga puluh negara berdaulat. Usai menulis surat terakhir dan terpanjang yang kutujukan kepada presiden kita dengan memaparkan pikiran dan perasaanku tentang negaraku yang tercinta di masa depan — sambil tentunya berharap agar surat tersebut dapat lolos ke istana dan terdokumentasi dalam buku ‘Presiden dan Anak-Anak’–, aku jatuh pingsan. Benar-benar semaput ! Dalam ketidaksadaran aku mengigau. Berteriak-teriak meneriakkan entah apa (demikian didengar tetangga yang datang tergopoh-gopoh menolong). Dan dalam ketaksadaran, aku melihat bapak presiden bersama wakilnya, entah dalam kunjungan apa di daerahku, datang pula mengunjungiku.

“Anak ini kenapa, heh ?” tanya Bapak Presiden didampingi wakilnya.

“Dia pingsan, Pak. Pingsan biasa.” Seseorang memberi penjelasan dengan takzim.

“Oh, segera datangken ambulance dan lariken cepat ke rumah sakit. Jangan biarken begitu saja !” kata bapak presiden.

Bapak wakil presiden kemudian mengulang perintah yang sama kepada menteri kesehatan. Dan menteri kesehatan, dengan penuh wibawa, meneruskan perintah tersebut kepada stafnya yang terkait. Aku pun segera dilarikan ke RSU dengan pengawalan dan pengawasan ketat bagaikan seorang pejabat penting. Tentu saja dengan menggunakan ambulans paling baru yang segera dikeluarkan dari rumah sakit paling besar di kotaku.

Di belakang aku masih mendengar (atau mungkin juga menghayal) Bapak Presiden memberikan wejangan kepada orang banyak yang datang berkerumun.

“Ini adalah akibat daripada anak Indonesia yang kekurangan giji (harap dibaca : gizi !). Maka sekarang saya tekanken agar supaya di setiap dari pada kota maupun daerah diadaken penyuluhan kesehatan agar masyarakat memahami pentingnya arti dari pada kekurangan giji !”

Menteri kesehatanpun mengangguk-angguk dan mencatat entah apa. Puluhan wartawan yang datang berkerumun entah dari mana saja mereka datang, juga sama mencatat entah apa.
Paginya, ada tangan halus menyentuh jidatku. Aku pikir pastilah tangan halus seorang suster yang juga telah mendapat ultimatum dari pimpinannya, agar merawatku secara intensif karena aku pasien titah Bapak Presiden. Tapi ternyata meleset. Yang duduk di sampingku ternyata kakak — kakakku yang semata wayang. Membarut-barut kepalaku dengan penuh kasih sayang. Ia menemukanku tergeletak di kaki meja melingkar seperti kucing. Bersama tetangga yang datang menolong, kakak mengangkatku ke balai-balai. Memeriksa keadaanku. Untung aku segera sadar dan para tetanggapun bubar setelah aku menghadiahi mereka masing-masing sebuah senyum tulus.

“Kau jangan terlalu serius kalau mengarang. Belum waktunya kau menulis menyaingi Boris Pasternak !” sindir kakak setelah melihatku sudah dapat diajak bicara.

“Aku tidak serius. Aku menulis apa adanya. Lagi pula aku tidak suka mengarang seperti Kakak. Aku hanya menulis surat !”

“Menulis surat juga mengarang! Tapi kamu menulis surat untuk siapa ? Dan kenapa sebanyak ini ?” kata kakak. Memeriksa kertas-kertas berserakan yang kuketik semalam. Sekaligus membantu merapikannya.

Aku tidak menyahut. Pertanyaan kakak kubiarkan tergantung. Aku menatap mata kakak. Mata seorang gadis yang sudah kelewat tua untuk disebut gadis. Indah seperti mata ibu ketika beliau masih hidup. Boleh jadi dialah pewaris mata ibu yang bening. Kasih sayangnya yang lembut. Sedang aku sebagai anak lelaki ditakdirkan mewarisi mata ayah yang galak. Kemauannya yang keras.

“Anak manis, mengapa menulis-nulis begini !” kata kakak sambil membawa sebuah surat yang kuketik semalam ke dekatku. Kakak membacanya. Tersenyum. Tertawa. Membarut-barut kepalaku. Tiba-tiba kurasakan tangan kakak bagaikan tangan ibu yang lembut. Kakak tertawa-tawa membaca suratku. Sedang aku terharu biru mengenang kelembutan ibu.

“Nampaknya kau berbakat jadi pengarang anak manis !” kata kakak.

“Kakak,” kataku, “apakah Kakak tidak pernah teringat Ibu ?”

Kakak berhenti membaca. Menatapku. Sinar-sinar matanya mengisyaratkan kasih sayangnya yang tulus. Semakin yakinlah aku akan kemiripan kakak dengan karakter yang pernah dimiliki ibu.
“Mengapa bertanya begitu ?”

“Aku teringat ibu. Aku bermimpi semalam bertemu ibu dan ayah di sorga Tuhan !”

Kakak tersenyum. Memelukku. Mencium rambutku. Lagi dan lagi.

“Bagaimana keadaan ayah dan Ibu menurut mimpimu anak manis. Ceritakanlah !”

“Kakak tidak marah ?”

“Mengapa harus marah kalau sekedar menceritakan sebuah mimpi ?”

“Baiklah. Begini ceritanya : aku berjalan-jalan di sebuh taman indah penuh bunga-bunga aneka warna. Perasaanku terawang dan kaki bagai tak menginjak rumput-rumput yang tumbuh hijau bagai beludru di taman itu. Aku yakin itulah sorga. Sorga seperti yang dijanjikan Tuhan melalui berbagai kitab sucinya. Aku pernah membaca bahwa di sorga ada sungai bening mengalir tak henti-henti. Aku melihat ke samping dan memang di sana ada sungai yang mengalir. Airnya bening sebening embun pagi…”

“Itu bukan sorga anak manis,” bantah kakak “itu hanya persepsimu yang terbawa ke mimpi. Kamu terlalu kecapaian mengetik semalaman. Apa mesin ketik kakak tidak rusak ?”

“Mau aku teruskan ceritanya atau stop ?”

“Ya, teruskan !”

“Tapi kakak jangan buru-buru memotong.”

Kakak mengangguk.

“Aku berjalan terus mengikuti kehendak hati. Aku mendengar kicau burung ramai sekali. Ketika menengok ke belakang tahulah aku bahwa di belakang berpuluh-puluh jenis burung mengikuti langkahku. Aku berhenti dan merekapun berhenti. Ada yang bertengger di tangkai bunga ada juga yang hinggap di tanah. Tapi mereka tidak berhenti bernyanyi.

Karena mereka toh tidak menggangguku dan bahkan mereka menghiburku sepanjang perjalanan, aku biarkan mereka bernyanyi. Diam-diam aku merasa telah mendapat teman seperjalanan. Mereka menjadi pengawal yang setia. Aku terus berjalan. Berjalan. Mereka pun terbang dari tangkai ke tangkai bunga mengikuti langkahku. Mereka terus bernyanyi. Bernyanyi. Menghiburku. Syairnya adalah petikan puisi yang mengisyaratkan kelahiran :

di ambang senja yang menyala-nyala
lahirlah engkau dari sebuah kemabukan panjang
bumipun sejenak terpana, surutlah suara-suara
bersama duka yang disaput angin petang

o, mawar dan keheningan yang menghempaskan
di segala penjuru semua bagai diliputi keagungan
kabut yang bebas dari ikatan turut menahankan nafasnya
seperti tahu sebentar lagi engkau menderaskan sukma1

Lagu itu mendayu-dayu. Membersit dari mulut burung-burung sahabatku. Ketika aku memasuki sebuah gapura aku dijemput oleh sejumlah bidadari sebaya. Mereka juga bernyanyi menirukan burung-burung sahabatku. Bait-bait puisinya mengisyaratkan kematian :

ketika engkau lahir dan ummi shibyan mencubitmu
agar menangis pertanda hidup, bersama cahaya pertama
yang menyusup ke biji matamu, kematian datang menjelma
bayanganmu agar dapat terus mengikutimu.

ia menguntitmu kemanapun kau pergi. Ke puncak gunung
tertinggi atau ke palung laut terdalam. Sepanjang hidup
ia bertengger di tengkukmu.

meski tak mencemaskanmu ia bergidik juga
ketika engkau menatap jurang yang dalam. Meski ia
agak gemetar pula, tapi suka menggodamu ketika
kau menyeberang jalan yang ramai.

tak seperti lelaki murahan atau
perempuan hidung belang yang telah menipumu.
ia setia, tak pernah ingkar janji, dan selalu
tepat waktu.

ketika engkau berteriak girang atau terpekur sedih
setelah lelah tualang ke lekuk seluruh
bumi, kematian akan tersenyum berdiri di hadapanmu.
la merentangkan tangan memperlihatkan rahasiamu
yang selama ini ia simpan sambil berkata,
“tinggal kematian petualangan yang tersisa”

tak ada yang mencintaimu setulus kematian 2

Para bidadari itu mengantarku ke haribaan ayah dan ibu sambil terus bernyanyi dan menari seperti para pemain opera.

Di sebuah singgasana yang di kanan-kirinya dipenuhi bunga-bunga indah beraneka warna ayah dan ibu bersanding bagaikan sepasang pengantin abadi.

‘Kaukah itu Muhary, anakku’ kata ibu, ‘kenapa kau datang kemari sebelum waktu ?’

‘Aku rindu ibu dan ayah. Aku anak nakal dan telah banyak menyusahkan hati ibu di dunia. Aku ingin menyembah’ kataku sambil sujud mencium kaki beliau.

‘Kepada Tuhanlah kau menyembah, Anakku. Di sini tempat kedamaian. Bukan lagi tempat berbakti kepada kedua orang tua. Pulanglah ke dunia dan doakan ayah dan ibu dalam setiap sembahyangmu. Karena hanya doa-doa kalianlah kami di sini dapat hidup tentram dan pada masanya akan dicatat sebagai penduduk sorga !’ kata ibu sambil menolakkan kepalaku.

‘Jadi di sini bukan sorga, Ibu ?’ tanyaku mendongak. Ibu membarut kepalaku dan ayah menatapku lembut. Begitu lembut sehingga aku lupa kalau ayah dulunya memiliki tatapan mata tajam.

‘Bukan, Anakku !’ kata ibu, ‘Sorga Tuhan jauh lebih sempurna dari ini semua. Sorga Tuhan tak terbahasakan. Maka sia-sialah kami menjelaskan. Sedang Tuhanpun hanya menggambarkannya sesuai kemampuan kosa kata bahasamu di dunia. Tentu saja agar kau tak jadi gila memikirkannya. Maka pulanglah segera ke dunia untuk memberi makna pada kehidupan yang nyata.’

Ibupun kemudian bernyanyi, seperti bidadari dan burung-burung sahabatku bernyanyi :

Kalau kau ingin menyelami rahasia kematian
maka carilah dalam jantung kehidupan

Burung hantu yang bermata kelam dan buta
tak bisa menyingkap misteri cahaya

Pabila sungguh ingin melihat hakikat kematian
bukalah hatimu lebar-lebar ke arah kehidupan

Sebab kehidupan dan kematian adalah tunggal
sebagaimana sungai dan laut adalah tunggal

Di kedalaman harapan dan keinginan
terpendam pengetahuan yang tersimpan
di dalam hati tentang alam akhirat.3

Mendengar nyanyian ibu akupun bersedih dan seolah-olah tak bisa bangkit lagi. Ingin aku tanyakan tempat apakah seindah itu kalau bukan sorga. Tapi aku enggan memperlihatkan air muka yang mungkin akan membuat ibu dan ayah ikut sedih dan merusak kebahagiaan dan ketenangan beliau.

Aku pun bangkit hendah permisi. Tapi aku mendengar ibu bertanya lagi.

‘Bagaimana keadaan kakakmu ?’

‘Baik-baik saja ibu. Kakak sekarang jadi pengarang Satu-satunya pengarang wanita di kotaku yang telah mendapat pujian dari kritikus sastra dan telah menerbitkan bukunya. Tapi dia masih belum kawin meski usianya kini sudah menginjak dewasa. Padahal sudah banyak laki-laki yang datang melamarnya. Tapi dia selalu menolak dan mengatakan masih akan belajar dan belum menemukan jatidiri yang dicarinya. Dia terus mengembara dari lembah ke lembah….’

Tiba-tiba kakak menjewer kupingku.

“Kurang ajar kau anak badung ! Siapa yang menyuruhmu menceritakan pribadi saya kepada ibu !”
Aku meringis melepaskan jewerannya. Aku berhenti bercerita.

“Teruskan ceritamu !” perintah kakak.

“Tidak mau !”

“Ayolah teruskan !”

“Tidak mau !” teriakku. “Kakak tadi janji tidak akan marah. Kenapa sekarang Kakak marah dan menjewer kupingku !”

“Aku tidak marah. Aku cuma gemas karena kau telah menceritakan hal-hal yang tidak sepantasnya kau ceritakan kepada ibu !”

“Tapi kan cuma mimpi !”

“Ya, teruslah mimpimu. Apalagi yang kau ceritakan ?”

“Aku cerita kepada ibu bahwa kakak menolak semua lamaran itu dan mengatakan kepada paman bahwa kakak belum mau bersuami. Aku melihat mata ibu berkaca-kaca. Mendongak kepada ayah tanpa kata-kata. Ayah tersenyum membarut rambut ibu..

Aku katakan juga bahwa ada seorang teman kakak yang selalu datang ke rumah dan sangat memperhatikan kakak. Dia seorang pengarang muda yang baik hati dan penuh pengertian. Dia sopan dan pintar bicara.”

Kakak mencubitku. Tapi aku segera menangkap tangannya.

****
Aku mengambil kertas lagi dari laci meja kemudian memasangnya lagi di mesin ketik. Kali ini aku menulis surat kepada ayah dan ibu di sorga. Begini bunyinya :

Ayah, Ibu, maafkan ananda.

Aku telah menceritakan mimpiku kepada kakak dan kakak terharu mendengarnya. Kakak mengatakan bahwa aku berbakat jadi pengarang. Tapi aku mau jadi pengarang. Kalau aku sudah dewasa aku mau jadi orang baik-baik saja. Aku tidak mau jadi malingkundang. Aku selalu mengingat nasihat ayah supaya aku menjadi orang yang beguna.

Aku tidak tahu apakah mimpiku semalam adalah pengalaman sakral ke alam arwah di mana ayah dan ibu sekarang bermukim. Atau hanya obsesi dari alam bawahsadarku seperti yang dikatakan kakak. Tapi aku tidak peduli. Aku rasa tidak perlu tahu misteri tersebut dan biarlah ia tetap jadi misteri. Akan ada waktu orang lain mengurusnya.

Yang perlu ananda sampaikan bahwa sekarang Aku tidak sekolah lagi. Tapi juga tidak jadi gelandangan. Aku bekerja membantu kakak membiayai cita-citanya untuk terus belajar. Ia mungkin akan kuliah lagi meraih S2-nya di sebuah Universitas. Nanti kalau kakak sudah punya pekerjaan tetap dan tidak hanya sebagai pengarang dengan penghasilan yang tidak jelas aku mau sekolah lagi.

Ayah, ibu, Aku setuju kalau kakak belum mau bersuami. Janganlah ayah dan ibu memaksanya !
Sembah sujud Ananda
Muhary

Selesai aku tulis surat tanpa tanggal itu aku membawanya ke kantor POS. Aku membeli perangko dan memasangnya pada amplop. Pada bagian muka amplop itu aku tulis alamatnya begini :

Kepada
Yth. Ibunda Samsiah
Di –
Sorga

Pada bagian belakangnya kutulis :

Ananda Muhary
di-
Dunia

Aku tidak menulis lengkap alamatnya karena kukira ibu dan ayah sudah cukup mengerti..
Ketikaku sodorkan surat itu kepada pegawai POS, orang yang berseragam abu-abu biru itu geleng-geleng kepala dan mengembalikannya.

“Kenapa ?” tanyaku, “Apa perangkonya masih kurang ?”

“Bukan begitu” kata Pak POS, “tapi jaringan komunikasi ke alat surat ini belum dapat kami buka. Soalnya, belum ada hubungan diplomatik, Dik !”

“Jadi bagaimana ?” tanyaku.

“Tidak bisa dikirim melalui POS. Simpan saja di laci meja pada malam Jumat Kliwon dan baca mantra ini, Allahumma… (sampai selesai). Tapi ingat, waktu menyimpannya harap memejamkan mata !” kata pegawai POS itu tertawa kepada temannya sambil menaruh telunjuk miring di jidat.
Aku manggut-manggut menerima surat itu kembali dan mencoba memahami sulitnya ‘hubungan antara manusia’.

Karena kebetulan memang malam Jumat Kliwon, setengah percaya aku menyimpan saja surat tersebut bersama surat-surat lain yang hendak kukirim ke sejumlah presiden itu.di laci meja dengan memejamkan mata saambil membaca ‘Allahumma…(sampai selesai)’, seperti anjuran pegawai POS konyol itu .

****

Saat itu saya baru saja pulang mengantar koran kepada langganan. Aku melihat Pak POS yang sering mengantar surat-surat kakak berhenti di depan rumah kami. Aku menggenjot sepeda kencang-kencang menemuinya. Pagi-pagi begini pasti kakak sedang tidak ada di rumah. Pergi kuliah atau pergi mengantar karangannya yang diselesaikannya semalam ke kantor redaksi surat kabar. Dan alangkah terkejutku ketika Pak POS menyodorkan dua buah surat yang beralamat luar negeri. Yang satu dari Presiden George Bush beralamat ‘White House, Washington DC, America’. Sedang yang lainnya dari Presiden Corazon Aquino dengan alamat Istana Malacanang, Manila, Filipina. Kedua surat itu ditujukan kepadaku..

Semula kedua surat itu kukira salah alamat. Tapi ketika kumengingat bahwa aku memang pernah menulis surat kepada kedua presiden itu beberapa waktu lalu, aku gembira. Aku berlari cepat masuk rumah. Menarik laci meja tempat aku menyimpan surat-surat tersebut. Dan alangkah kagetnya aku setelah melihat bahwa surat-surat yang kusimpan beberapa waktu lalu di situ sekarang sudah tidak ada. Semuanya tidak ada. Termasuk surat yang pernah aku tulis untuk ibu dan ayah di sorga.

Aku membuka ke dua surat tersebut, membacanya. Alangkah bangga perasaanku mendapat balasan surat dari seorang kepala negara, meski satu dari surat tersebut datang dari kepala negara yang aku tidak senangi perbuatannya.

Diam-diam aku kagum terhadap penemuanku. Aku pikir sekarang aku sudah menemukan sarana untuk mewujudkan impianku untuk menulis beribu-ribu surat kepada beribu-ribu manusia yang ada di jagad semesta ini. Aku pun semakin getol menulis surat. Bukan hanya kepada kepala negara, tapi juga kepada orang-orang terkenal lainnya yang aku tahu nama dan alamatnya dari berbagai sumber. Surat-surat tersebut kemudian aku simpan di laci pada tiap malam Jumat Kliwon dengan memejamkan mata dan membaca Allahumma… (dan seterusnya). Dan anehnya, surat-surat tersebut semuanya terbalas sehingga setiap minggu aku rata-rata menerima empat surat dari orang-orang terkenal yang pernah kukirimi surat melalui laci meja ajaib itu. Tapi sayangnya, tidak banyak alamat orang-orang terkenal aku ketahui. Andaikata aku banyak mengetahui alamat orang-orang terkenal itu tentu aku lebih banyak menerima surat lagi dari mereka.

Pada suatu hari kira-kira dua bulan setelah aku menyimpan surat yang hendak kukirim ke ibu dan ayah di sorga melalui laci itu, aku menerima surat lagi dari Pak POS yang sering datang mengantar surat-surat kakak dan kini surat-suratku. Sebelum menyerahkan surat tersebut kepadaku, Pak POS berkali-kali membolak-balik surat tersebut. Memeriksa alamat pengirim dan yang ditujukan.

“Sudah benar ini surat adik!” kata Pak POS setelah menyadari bahwa aku telah lama menunggu dia menyodorkan surat tersebut. “Cuma, kenapa alamat pengirimnya aneh begini, ya?”

“Aneh bagaimana, Pak?” tanyaku. Tapi Pak POS tak mengiraukan pertanyaanku lagi. Dia terus melompat ke sadel sepedanya. Membunyikan bel dan menggenjot pedal cepat-cepat sambil dalam hati mengumpat pengirim-pengirim surat yang suka usil.

“Untung hanya alamt pengirimnya yang diusili, andaikata alamat yang dikirimi, saya setengah mati lagi nyarinya !” omelnya.

“Oh, dari ayah dan ibu di Sorga!” teriakku, setelah melihat alamat pengirim surat itu. Di situ tertulis : dari ayah dan ibu di Sorga !

Aku mendekap surat itu dan menciumnya berkali-kali.

Dua hari setelah menerima balasan surat ibu aku jatuh sakit. Demam. Aku mengigau lagi. Aku melihat ibu dan ayah datang menjemputku. Membawaku jalan-jalan ke taman yang pernah kukunjungi dalam mimpi. Alangkah indahnya. Mahaindah ! Aku dibawa ayah dan ibu berkeliling-keliling mengunjungi pelosok-pelosok sorga yang paling indah. Aku sangat ingin tinggal bersama ayah dan ibu. Tapi ayah dan ibu selalu menolak dan mengatakan belum waktunya. ‘Tunggulah sampai kau dijemput-Nya’ kata ibu. ‘Yakinlah, bahwa kita akan berkumpul bersama nanti’ sambung ayah.

‘Juga kakak ?’

‘Ya, juga kakak dan pamanmu’

‘Juga Pak POS yang selalu setia mengantar surat ibu kepadaku ?’

‘Ya, juga Pak POS. Semua manusia yang masih hidup, anakku !’

Kalau aku mengigau terlalu jauh, kakak menyadarkanku. Suatu hari karena tak tahan melihat aku mengigau, kakak membawaku ke dokter. Tapi aneh, dokter mengatakan bahwa aku tidak sakit.
“Ia cuma perlu istirahat” kata dokter kepada kakak, “Dia tidak boleh banyak berpikir atau menghayal”

Sesuai nasihat dokter aku istirahat. Aku tidak lagi mengantar koran setiap hari seperti biasanya. Bahkan kegiatanku yang lain juga aku hentikan. Tapi keinginanku untuk menulis surat, terutama kepada ibu terus menggebu-gebu.

Meski telah dilarang keras oleh kakak dan mesin ketik kakak disembunyikan saat kakak keluar, aku sering mencuri-curi kesempatan menulis dengan menggunakan ball poin kakak. Pada malam hari aku sering terbangun memandangi kertas-kertas. Membayangkan kata-kata, ribuan kata-kata menari-nari membentuk kalimat-kalimat indah dan puitis : menjadi surat !

Sampai pada suatu hari, aku mendapati kakak merapikan baik-baik lembaran-lembaran surat yang pernah kubuat sambil mengeluh dengan mata basah.

“Salah saya juga, terlalu memaksa dia menyalurkan bakatnya mengarang dengan menipunya melalui surat-surat palsu yang kuminta dikirim teman dari luar negeri kepadanya !” kata kakak pada dirinya sendiri. Penuh penyesalan!

Catatan :

1. Puisi Muhary Wahyu Nurba, “Kelahiran”, dikutip atas izin penulisnya dari antologi “Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian” (Logung Pustaka-Akar Indonesia, 2004).
2. Puisi Aslan Abidin, “Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian”, dikutip atas izin penulisnya dari antologi “Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian” (Logung Pustaka-Akar Indonesia, 2004).
3. Puisi Kahlil Gibran, dikutip secara bebas dari “The Prophet” (Sang Nabi).

 

Satu Tanggapan to “Surat-Surat”

  1. salut dgn kreatifitasnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: